Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 11 : Suara dari Lorong Belakang

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 11 : Suara dari Lorong Belakang bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 11 — Suara dari Lorong Belakang

01:44 WIB

Angin dingin terus masuk dari pintu belakang warung yang terbuka.

Lampu gantung bergoyang pelan.

Dan suara hujan di luar tiba-tiba terdengar sangat jauh.

Seolah seluruh dunia mendadak menjauh dari tempat itu.

“Kak...”

Suara itu terdengar lagi.

Pelan.

Lemah.

Namun cukup untuk membuat tubuh Raka membeku total.

Karena itu benar-benar suara Mira.

“Mira?”

Raka refleks melangkah mendekati lorong belakang.

Namun Nara langsung menahan lengannya.

“Jangan.”

Tatapan Nara terlihat sangat serius.

“Itu belum tentu dia.”

Raka menatapnya bingung.

“Aku tahu suara adikku sendiri.”

Nara menggenggam lentera kecil lebih erat.

Api di dalamnya mulai bergerak liar.

“Kereta itu bisa memakai suara orang yang kamu rindukan.”

Kalimat itu membuat dada Raka terasa sesak.

Namun sebelum ia sempat menjawab—

“Kak...”

“tolong aku.”

Air muka Raka langsung berubah.

Karena kali ini suara itu terdengar jauh lebih dekat.

Seolah Mira berdiri tepat di ujung lorong belakang.

•••

Lorong sempit di belakang warung dipenuhi bayangan gelap.

Air hujan menetes dari pipa-pipa tua.

tik...
tik...
tik...

Raka berjalan pelan mendekati pintu belakang.

Nara mengikuti dari belakang sambil membawa lentera.

Cahaya kecil itu menjadi satu-satunya penerangan di lorong.

Dan semakin mereka mendekat...

semakin kuat aroma rel basah dan besi panas memenuhi udara.

“Kak...”

Kini suara itu terdengar tepat di depan mereka.

Namun lorong tersebut kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya kabut tipis yang bergerak pelan di lantai.

Lalu...

DUMMMMMMMMM—

Suara kereta menggema dari balik gang sempit.

Terlalu dekat.

Sangat dekat.

Dan perlahan...

kabut di ujung lorong mulai terbelah.

Lampu kuning redup muncul dari kegelapan.

Rel tua terbentuk perlahan di atas aspal basah.

Seolah jalur kereta itu sedang “muncul” dari tempat yang tidak seharusnya.

Napas Raka tercekat.

“Ini nggak mungkin...”

Namun Nara justru terlihat pucat.

“Dia sengaja mendekat.”

Suara perempuan itu bergetar kecil.

“Biasanya kereta cuma muncul di stasiun.”

Raka menoleh cepat.

“Maksudmu?”
“Artinya...”

“kondekturnya mulai mencarimu langsung.”
•••

Kereta hitam itu perlahan melintas di ujung lorong sempit.

Gerbongnya terlihat jauh lebih tua dibanding sebelumnya.

Catnya mengelupas.

Jendelanya dipenuhi embun.

Dan di dalamnya...

terlihat bayangan puluhan penumpang duduk diam.

Tidak bergerak sedikit pun.

Seperti mayat yang lupa rebah.

Lalu—

KLAK

Salah satu pintu gerbong terbuka.

Kabut dingin langsung mengalir keluar.

Dan dari dalam sana...

seorang gadis perlahan turun.

Rambut hitam panjang.

Sweater abu-abu.

Wajah pucat.

Tubuh Raka langsung melemas.

“Mira...”

Gadis itu berdiri diam di tengah hujan.

Matanya kosong.

Namun kali ini...

ia benar-benar terlihat nyata.

Bukan sekadar bayangan di balik kaca.

“Kak...”

Suara Mira terdengar sangat pelan.

“Aku capek.”

Air mata langsung menggenang di mata Raka.

Ia melangkah maju tanpa sadar.

Namun Nara segera menarik hoodie-nya kuat-kuat.

“JANGAN SENTUH DIA!”

Raka menoleh marah.

“Itu adikku!”

Namun sebelum Nara sempat menjawab...

Mira perlahan mengangkat wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya...

Raka melihat sesuatu yang salah.

Mata Mira tidak berkedip.

Tidak sama sekali.

Dan di balik pupil matanya...

ada cahaya kecil seperti pantulan lampu kereta.

“Kak...”

“ikut aku.”

Senyum tipis muncul di wajah Mira.

Senyum yang sangat mirip dengan sosok kondektur.

Tulang belakang Raka langsung terasa dingin.

•••

Tiba-tiba lentera di tangan Nara menyala jauh lebih terang.

WHOOOSSH—

Api kuning berubah menjadi kebiruan.

Dan seluruh lorong langsung dipenuhi suara bisikan.

Puluhan suara.

Berbisik bersamaan.

“Penumpang berikutnya...”
“Penumpang berikutnya...”
“Penumpang berikutnya...”

Raka menutup telinganya.

Kepalanya terasa seperti akan pecah.

Dan di tengah semua bisikan itu...

seseorang perlahan muncul dari balik pintu gerbong.

Kondektur.

Topinya basah terkena hujan.

Seragam hitamnya terlihat sangat tua.

Dan kini...

untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat jelas.

Namun yang membuat Raka membeku bukan wajah itu.

Melainkan fakta bahwa:

wajah kondektur tersebut perlahan berubah...

menjadi wajah Raka sendiri.

— END OF CHAPTER 11 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 11 : Suara dari Lorong Belakang bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 11 : Suara dari Lorong Belakang bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 11 : Suara dari Lorong Belakang online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 11 : Suara dari Lorong Belakang baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 11 : Suara dari Lorong Belakang chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi