Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 13 : Mereka Yang Menunggu Kereta

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 13 : Mereka Yang Menunggu Kereta bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 13 — Mereka yang Menunggu Kereta

??:?? WIB

Tidak ada suara hujan lagi.

Tidak ada suara kota.

Tidak ada suara kehidupan.

Yang tersisa hanya bunyi dengung listrik tua dari lampu-lampu peron.

bzzzzzz...

Raka berdiri terpaku di tengah stasiun asing itu.

Sepanjang rel, ratusan sosok berdiri diam menatapnya.

Pria tua.

Wanita muda.

Anak kecil.

Petugas stasiun.

Mahasiswa.

Orang-orang dari zaman yang berbeda.

Namun semuanya memiliki tatapan yang sama:

kosong.

“Selamat datang di stasiun terakhir.”

Suara kondektur menggema pelan.

Kini wajahnya tidak lagi menyerupai Raka.

Namun terus berubah perlahan.

Kadang wajah pria tua.

Kadang wajah perempuan.

Kadang wajah orang yang bahkan tidak dikenal Raka.

Seolah wajahnya terbentuk dari seluruh penumpang yang pernah naik kereta itu.

•••

Nara menggenggam lentera birunya erat.

Cahayanya kini jauh lebih redup.

Retakan di kaca lentera mulai melebar.

“Kita nggak punya banyak waktu.”

Suara Nara terdengar pelan, namun tegang.

“Kalau lentera ini mati...”

“kita nggak bisa balik.”

Raka masih menatap sekeliling.

Peron itu terasa tidak berujung.

Rel-rel bercabang ke segala arah, menghilang dalam kabut putih.

Dan di atas seluruh jalur...

terdapat papan keberangkatan raksasa.

Namun semua tujuan di papan itu aneh.

JALUR 1 — YANG BELUM IKHLAS
JALUR 3 — YANG TERLUPAKAN
JALUR 7 — YANG MENCARI PULANG
JALUR 13 — TIDAK ADA KEMBALI

Tubuh Raka langsung merinding.

•••

Tiba-tiba salah satu penumpang bergerak mendekat.

Seorang pria muda dengan seragam kantor lusuh.

Wajahnya pucat.

Matanya cekung.

Namun suaranya terdengar normal.

“Kereta terakhir belum datang?”

Raka membeku.

Pria itu menatap ke arah papan jadwal kosong.

“Aku cuma mau pulang.”

Lalu perlahan...

kulit wajah pria tersebut mulai berubah seperti abu.

Tubuhnya pecah menjadi serpihan hitam.

krrssss—

Dan dalam hitungan detik...

ia menghilang begitu saja.

Seolah tidak pernah ada.

Raka mundur satu langkah.

“Apa itu tadi?”

Nara menunduk pelan.

“Mereka yang lupa siapa dirinya.”

Sunyi.

“Semakin lama seseorang berada di sini...”

“semakin sedikit ingatan yang tersisa.”

Raka langsung memikirkan Mira.

Kalau begitu...

berapa banyak bagian diri adiknya yang masih tersisa?

•••

Mira berdiri tidak jauh di depan mereka.

Tubuhnya samar tertutup kabut.

Namun kali ini, tatapannya terlihat lebih sadar.

“Kak...”

Raka langsung mendekat.

“Mira, kita pulang sekarang.”

Namun Mira hanya menggeleng pelan.

Air mata mengalir di wajah pucatnya.

“Aku nggak bisa.”

“Dia nggak bakal ngizinin.”

Raka mengepalkan tangan.

“Siapa?”

Mira perlahan menoleh ke arah kondektur.

Sosok itu kini berdiri diam di depan gerbong utama.

Tangannya memegang peluit tua berwarna hitam.

“Dia penjaga perjalanan.”
“Kalau seseorang sudah naik...”
“dia harus sampai tujuan.”

Raka menatap tajam kondektur itu.

“Kalau aku maksa bawa Mira pergi?”

Mira langsung terlihat takut.

“Kak jangan—”
PRIIIIIIIIITTTTT—

Peluit kondektur tiba-tiba berbunyi.

Suaranya memekakkan telinga.

Seluruh lampu stasiun langsung padam bersamaan.

BRAKK—

Gelap total.

Dan dari seluruh penjuru stasiun...

terdengar suara langkah kaki.

Ratusan langkah kaki.

tok...
tok...
tok...
tok...

Nara langsung mengangkat lentera.

Cahaya biru kecil menerangi kabut sekitar mereka.

Dan saat cahaya itu menyapu peron...

Raka langsung menahan napas.

Semua penumpang kini berdiri jauh lebih dekat.

Mengelilingi mereka.

Diam.

Namun wajah mereka mulai berubah perlahan.

Satu per satu...

seluruh penumpang mulai memiliki wajah yang sama:

wajah Raka.

“Tidak...”

Bisikan terdengar dari segala arah.

“Dia mulai dipanggil.”
“Kereta mengenalinya.”
“Penumpang berikutnya.”
•••

Nara tiba-tiba menarik tangan Raka kuat-kuat.

“Kita harus ke ruang kontrol.”

Raka masih menatap lautan wajah dirinya sendiri.

“Apa itu bisa bantu?”

Nara mengangguk cepat.

“Kalau masih ada cara nyelamatin Mira...”

“jawabannya ada di sana.”

Lalu untuk pertama kalinya...

kondektur itu tertawa kecil.

heh...

Dan perlahan, ia menunjuk ke arah ujung stasiun.

Ke sebuah ruangan tua dengan lampu merah berkedip.

Di atas pintunya tertulis:

PUSAT PENGATUR PERJALANAN

Namun tepat di bawah tulisan itu...

ada sesuatu yang membuat darah Raka terasa dingin.

Daftar nama penumpang.

Dan di urutan paling bawah...

nama:

RAKA PRADIPTA
— END OF CHAPTER 13 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 13 : Mereka Yang Menunggu Kereta bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 13 : Mereka Yang Menunggu Kereta bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 13 : Mereka Yang Menunggu Kereta online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 13 : Mereka Yang Menunggu Kereta baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 13 : Mereka Yang Menunggu Kereta chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi