Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 15 : Penumpang Pertama

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 15 : Penumpang Pertama bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 15 — Penumpang Pertama

00:13 WIB

Monitor tua itu masih menyala.

Gambar CCTV tahun 1987 berkedip-kedip di tengah ruangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Stasiun Terakhir...

Raka melihat ekspresi ketakutan di wajah Nara.

Bukan takut pada kereta.

Bukan takut pada kondektur.

Melainkan takut pada sesuatu yang sudah ia ketahui sejak lama.

Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.

"Nara..."

Suara Raka pelan.

"Itu kamu kan?"

Nara tidak menjawab.

Matanya tetap menatap layar CCTV.

Seolah ia sedang melihat mimpi buruk yang kembali hidup.

. . .

Rekaman itu terus berjalan.

Dalam gambar hitam-putih yang penuh gangguan, Nara muda berdiri di sebuah peron kosong.

Di belakangnya berdiri sosok kondektur.

Namun saat kamera memperbesar gambar...

Raka menyadari sesuatu.

Kondektur itu berbeda.

Seragamnya sama.

Topinya sama.

Namun wajahnya bukan wajah yang selama ini mereka lihat.

Wajah pria itu masih manusia.

Masih hidup.

Masih memiliki ekspresi.

Dan yang paling mengejutkan...

pria itu tampak sangat muda.

Seperti seseorang yang baru berusia dua puluh tahunan.

Lalu suara dari monitor mulai terdengar.

"Naraswati."
"Apakah kamu ingin melihat mereka lagi?"

Tubuh Nara langsung membeku.

Raka menoleh cepat.

"Siapa mereka?"

Nara menunduk.

Lama sekali.

Sampai akhirnya ia menjawab.

"Keluargaku."
. . .

Sunyi memenuhi ruang kontrol.

Bahkan suara mesin tiket seolah berhenti sesaat.

Raka tidak berkata apa-apa.

Ia menunggu.

Dan akhirnya...

Nara mulai bercerita.

"Tahun 1987..."
"aku kehilangan ayah, ibu, dan adikku dalam kecelakaan kereta."

Mata Raka membesar.

"Aku satu-satunya yang selamat."

Suara Nara bergetar.

"Atau setidaknya aku pikir begitu."

Ia menatap rekaman itu.

"Malam itu aku datang ke stasiun sendirian."
"Dan dia menawariku sesuatu."

Raka tidak perlu bertanya siapa "dia".

Kondektur.

"Dia bilang..."
"'Kalau kau naik kereta ini, kau bisa melihat mereka lagi.'"

Napas Raka tercekat.

"Dan aku percaya."
. . .

Monitor tiba-tiba menampilkan gambar berikutnya.

Nara muda terlihat menaiki kereta.

Pintu gerbong tertutup.

Dan beberapa detik kemudian...

rekaman terputus.

ZZZZZZTTTT—

Namun sebelum layar menjadi hitam, muncul satu frame terakhir.

Sangat cepat.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi cukup untuk dilihat Raka.

Di dalam gerbong...

terdapat ratusan penumpang.

Dan salah satu dari mereka...

adalah Mira.

. . .

Raka langsung berdiri.

"Itu Mira!"

Namun Nara justru terlihat lebih pucat.

"Itu nggak mungkin..."

Raka menunjuk layar.

"Aku lihat sendiri!"

Nara menggeleng pelan.

"Itu tahun 1987."
"Mira bahkan belum lahir."

Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

Karena mereka berdua sadar akan satu kemungkinan mengerikan.

Mungkin...

waktu tidak berjalan normal di kereta itu.


Tiba-tiba seluruh monitor di ruangan menyala bersamaan.

ZZZZTTT—
ZZZZTTT—
ZZZZTTT—

Puluhan layar kini menampilkan rekaman dari tahun yang berbeda-beda.

1954.

1968.

1977.

1987.

1999.

2012.

2025.

Semua memperlihatkan hal yang sama.

Kereta itu.

Dan di setiap rekaman...

selalu ada satu sosok yang sama.

Kondektur.

Tidak pernah berubah.

Tidak pernah menua.

Tidak pernah hilang.

. . .

Lalu sebuah monitor di tengah ruangan menyala lebih terang.

Berbeda dari yang lain.

Gambarnya jauh lebih tua.

Hitam-putih.

Kabur.

Dan tahun di sudut layar membuat Raka terdiam.

1913

Lebih dari seratus tahun lalu.

Rekaman menunjukkan sebuah stasiun kolonial tua.

Asap lokomotif memenuhi udara.

Orang-orang berpakaian zaman Hindia Belanda berjalan di peron.

Dan di tengah kerumunan...

berdiri seorang pria muda berseragam kondektur.

Masih manusia.

Masih hidup.

Masih memiliki nama.

Karena di seragamnya tertulis:

ARDIAN SURYAKUSUMA
. . .

Nara langsung menjatuhkan lentera.

CLANG!

Api biru berkedip hebat.

"Tidak..."

Suara Nara nyaris berbisik.

"Itu dia..."

Raka menatap layar.

"Kamu kenal dia?"

Nara perlahan mengangguk.

Air mata mulai mengalir di pipinya.

"Karena dia..."

Perempuan itu menatap monitor dengan wajah hancur.

"...adalah penumpang pertama."
— END OF CHAPTER 15 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 15 : Penumpang Pertama bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 15 : Penumpang Pertama bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 15 : Penumpang Pertama online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 15 : Penumpang Pertama baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 15 : Penumpang Pertama chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi