Stasiun Ketiga Belas - Stasiun Ketiga Belas Chapter 16 : Ardian Suryakusuma
Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 16 : Ardian Suryakusuma bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.
Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]
STASIUN KETIGA BELAS
Chapter 16 — Ardian Suryakusuma
Nama itu masih terpampang di layar monitor tua.
ARDIAN SURYAKUSUMA.
1913.
Penumpang Pertama.
Ruangan kontrol menjadi sunyi.
Bahkan suara mesin tiket yang selama ini terus berdetak kini perlahan melambat.
...
cetak...
Raka menatap layar tanpa berkedip.
Sementara Nara berdiri membeku.
Wajahnya lebih pucat dibanding saat pertama kali mereka bertemu.
"selama ini kondektur itu dulunya manusia?"
Nara mengangguk pelan.
"dia adalah alasan semua ini terjadi."
Monitor tua tiba-tiba berkedip lagi.
Rekaman tahun 1913 mulai bergerak.
Kali ini lebih jelas.
Peron kolonial yang dipenuhi asap lokomotif.
Petugas-petugas stasiun berseragam putih.
Lampu minyak yang menggantung di tiang besi.
Dan di tengah semuanya...
Ardian Suryakusuma.
Seorang kondektur muda.
Wajahnya tampan.
Tatapannya hidup.
Sangat berbeda dengan makhluk yang sekarang mereka kenal.
Ardian terlihat sedang menunggu seseorang.
Berkali-kali ia melihat jam saku di tangannya.
Lalu menatap ujung peron.
Seakan berharap seseorang datang.
Dan akhirnya...
seorang perempuan muncul dari kabut.
Membawa koper kecil.
Tersenyum.
Ardian langsung berlari menghampirinya.
Mereka berpelukan.
Tertawa.
Seperti dua orang yang sedang merencanakan masa depan.
gumam Raka.
Nara tidak menjawab.
Karena rekaman itu belum selesai.
Kereta kemudian datang.
Namun sesuatu terasa salah.
Asapnya terlalu gelap.
Lampunya terlalu redup.
Dan jumlah gerbongnya tidak masuk akal.
Terlalu banyak.
Seolah tidak ada ujungnya.
Ardian terlihat menyadarinya.
Ia mundur selangkah.
Begitu pula perempuan di sampingnya.
Namun...
kereta itu tidak berhenti.
Kereta tersebut justru melambat tepat di depan mereka.
Dan salah satu pintunya terbuka sendiri.
Dari dalam gerbong...
seseorang turun.
Seorang kondektur.
Dengan seragam yang sama.
Topi yang sama.
Dan wajah yang sama.
Ardian menatap sosok itu dengan ketakutan.
Karena ia sedang melihat dirinya sendiri.
Tubuh Raka langsung merinding.
bisiknya.
Nara perlahan mengangguk.
Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Dalam rekaman...
Kondektur misterius tersebut menyerahkan sebuah tiket kepada Ardian.
Lalu membisikkan sesuatu.
Tidak ada suara.
Namun ekspresi Ardian langsung berubah.
Ketakutan.
Kebingungan.
Lalu putus asa.
Dan beberapa detik kemudian...
perempuan yang bersamanya menghilang.
Begitu saja.
Tanpa jejak.
Tanpa suara.
Seolah terhapus dari dunia.
Ardian berteriak.
Berlari ke sepanjang peron.
Mencari ke mana-mana.
Namun perempuan itu tidak pernah ditemukan.
Lalu rekaman menunjukkan sesuatu yang mengerikan.
Ardian sendiri melangkah masuk ke gerbong.
Atas kemauannya sendiri.
Tanpa dipaksa.
Tanpa ditarik.
Ia naik ke kereta itu...
untuk mencari orang yang dicintainya.
Layar monitor tiba-tiba membeku.
Kemudian muncul satu kalimat.
TIDAK PERNAH TURUN
Raka menelan ludah.
Kini semuanya mulai masuk akal.
Kereta tidak memilih orang secara acak.
Kereta memilih mereka yang kehilangan seseorang.
Mereka yang rela melakukan apa saja untuk bertemu kembali.
Dan sekarang...
Raka adalah salah satunya.
Tiba-tiba seluruh monitor di ruangan padam bersamaan.
Gelap.
Total.
Hanya lentera biru milik Nara yang masih menyala.
Namun cahayanya kini sangat kecil.
Nyaris padam.
bisik Raka.
Nara membeku.
Perlahan...
ia menoleh.
Dan tepat di belakangnya...
berdiri Ardian.
Bukan rekaman.
Bukan bayangan.
Bukan kondektur.
Melainkan Ardian muda seperti tahun 1913.
Dengan wajah manusia.
Dan air mata mengalir di pipinya.
suaranya bergetar.
Raka belum sempat bertanya.
Belum sempat bergerak.
Karena sesaat kemudian...
suara peluit kondektur menggema di seluruh stasiun.
Dan untuk pertama kalinya...
jam raksasa di ruang kontrol bergerak dari angka:
menjadi:
Nara langsung kehilangan warna di wajahnya.
Lalu ia berbisik:
Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 16 : Ardian Suryakusuma bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 16 : Ardian Suryakusuma bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 16 : Ardian Suryakusuma online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 16 : Ardian Suryakusuma baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 16 : Ardian Suryakusuma chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Komentar (0)