Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 17 : Kereta Kosong Kosong Empat Belas

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 17 : Kereta Kosong Kosong Empat Belas bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 17 — Kereta 00:14

00:14 WIB

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad...

jam di Stasiun Terakhir bergerak.

Dari 00:13.

Menjadi 00:14.

Dan seluruh stasiun merespons.

DUMMMMM—

Getaran besar mengguncang ruang kontrol.

Monitor-monitor tua pecah satu per satu.

PRANG!
PRANG!
PRANG!

Foto-foto orang hilang berjatuhan dari dinding.

Mesin tiket tua mulai mencetak ribuan lembar sekaligus.

CETAK CETAK CETAK CETAK—

Dan di luar...

terdengar suara kereta yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Lebih berat.

Lebih besar.

Lebih tua.

WHOOOOOOOOOOOOOMMMM—
. . .

Ardian masih berdiri di tengah ruangan.

Tubuhnya mulai memudar seperti asap.

Namun kali ini matanya menatap langsung ke arah Raka.

"Dengarkan aku."
"Kereta yang datang sekarang berbeda."

Raka maju selangkah.

"Apa maksudmu?"

Ardian tampak kesulitan berbicara.

Seolah sesuatu sedang menariknya pergi.

"00:13 hanya mencari penumpang."
"Tapi 00:14..."

Wajah Ardian berubah ketakutan.

"...mencari pengganti."
. . .

Ruangan mendadak menjadi sunyi.

Bahkan Nara berhenti bernapas sesaat.

"Pengganti siapa?"

tanya Raka.

Namun jauh di dalam dirinya...

ia sudah tahu jawabannya.

"Pengganti kondektur."

bisik Ardian.

. . .

Tepat saat itu...

seluruh lampu ruang kontrol padam.

BRAKK!

Gelap.

Hanya lentera biru milik Nara yang tersisa.

Namun nyalanya kini sangat kecil.

Seukuran lilin yang hampir mati.

Dan dari luar ruangan...

terdengar suara peluit.

PRIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTT—

Kali ini jauh lebih keras.

Seolah seluruh stasiun sedang memanggil seseorang.

. . .

Pintu ruang kontrol perlahan terbuka sendiri.

KREEEEEEEEKK—

Kabut putih masuk memenuhi ruangan.

Dan di luar sana...

peron telah berubah.

Tidak ada lagi rel tua.

Tidak ada lagi penumpang tanpa wajah.

Kini seluruh stasiun terlihat seperti stasiun modern.

Bersih.

Terang.

Dan sangat nyata.

Seolah mereka kembali ke dunia normal.

"Apa yang terjadi?"

bisik Raka.

Nara terlihat jauh lebih ketakutan.

"Jangan percaya apa pun yang kamu lihat."
. . .

Lalu mereka melihat kereta itu.

Kereta 00:14.

Perlahan memasuki stasiun.

Tidak seperti kereta sebelumnya.

Gerbongnya berwarna putih.

Sangat bersih.

Lampunya terang hangat.

Tidak menyeramkan sama sekali.

Justru terlihat nyaman.

Seperti kereta yang ingin dinaiki semua orang.

Dan itulah yang membuatnya lebih menakutkan.

. . .

Pintu gerbong terbuka.

Tidak ada kondektur.

Tidak ada suara aneh.

Hanya suara seseorang memanggil dari dalam.

"Raka."

Tubuh Raka membeku.

Karena ia mengenali suara itu.

Ayahnya.

Yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.

"Nak."
"Ayo pulang."

Mata Raka membesar.

Napasnya tercekat.

Dan sebelum ia sempat bergerak...

suara lain terdengar.

"Raka."

Ibunya.

Kemudian suara lain.

"Kak."

Mira.

Lalu satu per satu...

wajah-wajah yang telah hilang dari hidupnya muncul di jendela gerbong.

Tersenyum.

Memanggilnya pulang.

. . .

Air mata mulai menggenang di mata Raka.

Untuk sesaat...

ia lupa semua peringatan.

Lupa semua bahaya.

Lupa semua yang telah terjadi.

Yang ia lihat hanyalah keluarganya.

Lengkap.

Utuh.

Menunggunya.

"Raka!"

teriak Nara.

Namun suaranya terdengar sangat jauh.

Seolah berasal dari dunia lain.

. . .

Satu langkah.

Raka mendekati kereta.

Dua langkah.

Tangannya hampir menyentuh pintu gerbong.

Tiga langkah.

Dan tepat saat itu...

sesuatu mencengkeram bahunya dari belakang.

Keras.

Sangat keras.

Raka menoleh.

Dan darahnya langsung membeku.

Karena sosok yang memegang bahunya...

adalah dirinya sendiri.

Namun bukan versi kondektur.

Bukan bayangan.

Bukan penumpang.

Melainkan Raka yang jauh lebih tua.

Rambut mulai memutih.

Wajah penuh kelelahan.

Dan di matanya...

tersimpan rasa putus asa yang tidak pernah berakhir.

"Jangan naik."

bisik sosok itu.

"Karena aku pernah melakukannya."
— END OF CHAPTER 17 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 17 : Kereta Kosong Kosong Empat Belas bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 17 : Kereta Kosong Kosong Empat Belas bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 17 : Kereta Kosong Kosong Empat Belas online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 17 : Kereta Kosong Kosong Empat Belas baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 17 : Kereta Kosong Kosong Empat Belas chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi