Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 18 : Masa Depan yang Tertinggal

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 18 : Masa Depan yang Tertinggal bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 18 — Masa Depan yang Tertinggal

00:14 WIB

Tangan tua itu masih mencengkeram bahu Raka.

Kuat.

Sangat kuat.

Seolah tidak akan pernah melepaskannya.

"Jangan naik."

Suara pria tua itu terdengar serak.

Lelah.

Seperti seseorang yang sudah terlalu lama berjalan sendirian.

Raka menatap wajahnya.

Dan semakin lama ia melihat...

semakin jelas kemiripan mereka.

Mata yang sama.

Garis rahang yang sama.

Bekas luka kecil di pelipis kiri yang sama.

Tidak mungkin salah.

Pria itu adalah dirinya.

Versi yang jauh lebih tua.

. . .

Kereta 00:14 tetap menunggu.

Pintu gerbong terbuka lebar.

Cahaya hangat keluar dari dalam.

Dan di jendela...

keluarganya masih tersenyum.

"Raka..."
"Kami menunggumu."

Suara itu terdengar begitu nyata.

Begitu dekat.

Begitu menyakitkan.

Namun pria tua itu justru menarik Raka menjauh.

"Itu bukan mereka."

Raka membentak.

"Bagaimana kamu tahu?!"

Pria itu tersenyum pahit.

"Karena aku pernah mempercayainya."
. . .

Kabut mulai bergerak di sekitar mereka.

Membentuk potongan-potongan kenangan.

Seperti pecahan film yang diputar di udara.

Dan tanpa peringatan...

Raka melihat sesuatu.

Bukan miliknya.

Melainkan kenangan pria tua itu.

. . .

Ia melihat dirinya menaiki Kereta 00:14.

Melihat dirinya memasuki gerbong bercahaya.

Melihat keluarganya menyambut dengan pelukan.

Melihat dirinya menangis bahagia.

Dan untuk sesaat...

semuanya tampak sempurna.

Terlalu sempurna.

Sampai akhirnya sesuatu berubah.

Senyuman mereka membeku.

Tatapan mereka kosong.

Dan satu per satu...

mereka berubah menjadi penumpang tanpa wajah.

KRRRSSSS—

Gerbong yang hangat berubah menjadi gelap.

Tak berujung.

Penuh kursi kosong.

Penuh bisikan.

Penuh orang-orang yang tidak bisa pulang.

. . .

Kenangan itu berakhir.

Raka terengah.

Seolah baru saja tenggelam.

"Itu..."
"Itu yang terjadi padamu?"

Pria tua itu mengangguk.

"Puluhan tahun."
"Mungkin lebih."
"Aku sudah berhenti menghitung."
. . .

Di belakang mereka, Nara terlihat semakin gelisah.

Lentera birunya kini berkedip-kedip.

Hampir padam.

"Kita nggak punya waktu."

bisiknya.

Namun pria tua itu justru menatap Nara.

Lama sekali.

Dengan tatapan yang membuat Nara membeku.

"Kamu..."
"...masih di sini."

Nara terlihat terkejut.

"Kamu kenal aku?"

Pria itu tertawa kecil.

Tawa yang penuh kelelahan.

"Dalam beberapa kemungkinan masa depan..."
"...cuma kita yang tersisa."
. . .

Tiba-tiba suara peluit menggema lagi.

PRIIIIIIIIIIIIITTTTT—

Namun kali ini bukan dari stasiun.

Melainkan dari dalam Kereta 00:14.

Seluruh lampu gerbong berubah merah.

Pintu-pintunya mulai tertutup perlahan.

KREEEEKK...

Dan untuk pertama kalinya...

sosok kondektur muncul di dalam salah satu jendela.

Berdiri diam.

Menatap lurus ke arah mereka.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Sangat berbeda.

Kondektur itu tidak lagi memakai wajah Ardian.

Tidak lagi memakai wajah siapa pun.

Wajahnya kosong.

Benar-benar kosong.

Seperti ruang hitam tanpa dasar.

. . .

Pria tua itu langsung pucat.

"Tidak..."

Suaranya bergetar.

"Dia bangun."

Raka menoleh cepat.

"Siapa?"

Pria tua itu menatap sosok tanpa wajah tersebut.

Dan untuk pertama kalinya...

terlihat ketakutan murni di matanya.

"Yang menciptakan kereta ini."
. . .

Tepat saat itu, seluruh stasiun berguncang.

DUUUUUMMMMM—

Lantai peron retak.

Langit-langit stasiun mulai runtuh.

Jam raksasa di kejauhan bergerak lagi.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Dari:

00:14

menjadi:

00:15

Dan saat angka itu berubah...

seluruh penumpang di stasiun secara bersamaan menoleh ke arah Raka.

Ribuan orang.

Dalam satu gerakan.

Dalam satu detik.

Dalam satu kesadaran.

Lalu mereka semua berbisik:

"Penjaga berikutnya telah dipilih."
— END OF CHAPTER 18 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 18 : Masa Depan yang Tertinggal bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 18 : Masa Depan yang Tertinggal bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 18 : Masa Depan yang Tertinggal online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 18 : Masa Depan yang Tertinggal baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 18 : Masa Depan yang Tertinggal chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi