Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 19 : Darah Penjaga

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 19 : Darah Penjaga bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 19 — Darah Penjaga

00:15 WIB

Seluruh stasiun membisu.

Ribuan pasang mata menatap Raka.

Tidak berkedip.

Tidak bergerak.

Hanya menunggu.

"Penjaga berikutnya telah dipilih."

Bisikan itu bergema dari segala arah.

Dari rel.

Dari peron.

Dari dalam gerbong.

Bahkan dari langit-langit stasiun yang mulai retak.

. . .

Raka mundur satu langkah.

Lalu dua langkah.

Namun semakin ia mundur...

semakin banyak penumpang yang muncul dari kabut.

Mereka memenuhi seluruh stasiun.

Ratusan.

Ribuan.

Mungkin puluhan ribu.

Semua orang yang pernah hilang.

Semua orang yang tidak pernah pulang.

. . .

Pria tua yang menyerupai Raka masih berdiri di sampingnya.

Wajahnya semakin samar.

Seolah keberadaannya mulai terkikis.

"Waktuku hampir habis."

kata pria itu.

"Tapi sekarang kamu harus tahu semuanya."

Nara langsung menatapnya.

"Semuanya?"

Pria tua itu mengangguk.

Lalu menunjuk ke arah jam raksasa yang kini menunjukkan 00:15.

"Kenapa menurut kalian kereta itu memilih Raka?"

Tidak ada yang menjawab.

Karena mereka tidak tahu.

. . .

Pria tua itu tersenyum pahit.

"Karena keluarganya sudah menjadi bagian dari stasiun ini jauh sebelum Mira menghilang."

Tubuh Raka membeku.

"Apa maksudmu?"

Pria itu tidak langsung menjawab.

Sebaliknya...

ia mengulurkan tangan ke arah jam raksasa.

Dan seluruh udara di sekitar mereka berubah.

WHOOOOSHHH—
. . .

Stasiun menghilang.

Kereta menghilang.

Kabut menghilang.

Mereka kini berdiri di tempat lain.

Di sebuah rumah kayu sederhana.

Tahun 1913.

Hari yang sama ketika Ardian menghilang.

Dan di ruang tamu rumah itu...

seorang pria muda sedang berbicara dengan Ardian.

Pria yang wajahnya sangat familiar.

Terlalu familiar.

Karena wajah itu...

mirip ayah Raka.

. . .

Napas Raka tercekat.

"Tidak mungkin..."

Pria tua itu mengangguk.

"Itu leluhurmu."
"Namanya Satrio Pradipta."

Raka merasa dunia berputar.

Karena nama keluarganya muncul di tempat yang seharusnya tidak mungkin.

. . .

Mereka menyaksikan percakapan itu.

Satrio dan Ardian tampak seperti sahabat.

Mereka tertawa.

Mereka berbicara tentang kereta.

Tentang perjalanan.

Tentang seseorang yang hilang.

Dan tiba-tiba...

seorang pria asing muncul di pintu rumah.

Wajahnya tidak terlihat.

Tertutup bayangan hitam.

Namun auranya membuat udara terasa membeku.

Ia menyerahkan sebuah jam saku tua kepada Ardian.

Jam yang sama dengan simbol angka:

00:13
. . .

Pria tua itu mengepalkan tangan.

"Itulah awal semuanya."
"Jam itu bukan dibuat manusia."
"Jam itu adalah pintu."
. . .

Kenangan berubah lagi.

Kini mereka melihat Ardian menaiki kereta.

Melihatnya menghilang.

Melihat stasiun pertama kali terbentuk.

Melihat ratusan penumpang pertama berdatangan.

Melihat waktu berhenti di angka 00:13.

Dan melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Satrio Pradipta tidak pernah pergi.

Ia tetap datang ke stasiun itu.

Berulang kali.

Selama puluhan tahun.

Menunggu sahabatnya kembali.

. . .

Lalu layar kenangan berubah untuk terakhir kalinya.

Menampilkan sebuah foto tua.

Foto keluarga.

Tahun 1948.

Tahun 1973.

Tahun 1999.

Tahun 2025.

Di setiap foto...

selalu ada satu anggota keluarga Pradipta yang berdiri paling belakang.

Dengan ekspresi yang sama.

Tatapan yang sama.

Dan mata yang sama.

Seolah mereka sedang menunggu sesuatu.

. . .

Nara menatap foto-foto itu.

"Jadi..."
"...keluarga Raka sudah terhubung dengan stasiun ini selama lebih dari seratus tahun?"

Pria tua itu mengangguk.

"Bukan terhubung."

Ia menatap Raka lurus-lurus.

"Mereka menjaganya."
. . .

Sunyi.

Raka tidak mampu berkata apa-apa.

Seluruh hidupnya terasa seperti kebohongan.

Seluruh keluarganya menyimpan sesuatu yang tidak pernah diceritakan.

Dan kini...

ia mulai memahami kenapa dirinya dipilih.

Kenapa Mira dipilih.

Kenapa semua ini terjadi.

. . .

Namun sebelum siapa pun bisa berbicara...

seluruh kenangan mendadak pecah.

KRAAAKKK—

Seperti kaca raksasa yang dihantam sesuatu dari luar.

Stasiun kembali muncul.

Kereta 00:14 masih berada di peron.

Namun sekarang...

ada sesuatu yang berdiri di atas atapnya.

Sesuatu yang sangat besar.

Terlalu besar.

Hampir menyentuh langit stasiun.

Tubuhnya tersusun dari kabut hitam.

Wajahnya tidak ada.

Namun di dadanya...

terdapat jam raksasa yang terus berdetak.

TOK.
TOK.
TOK.

Dan setiap detakan...

membuat seluruh stasiun bergetar.

Pria tua itu langsung pucat.

Lebih pucat dari sebelumnya.

"Dia menemukanku..."

bisiknya.

Nara perlahan mengangkat lentera.

Api biru di dalamnya hampir mati.

Dan untuk pertama kalinya sejak awal perjalanan...

Nara terlihat benar-benar putus asa.

"Raka..."
"...itu bukan kondektur."

Ia menatap makhluk raksasa di atas kereta.

"Itu Stasiunnya."
— END OF CHAPTER 19 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 19 : Darah Penjaga bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 19 : Darah Penjaga bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 19 : Darah Penjaga online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 19 : Darah Penjaga baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 19 : Darah Penjaga chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi