Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 20 : Jantung Stasiun

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 20 : Jantung Stasiun bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 20 — Jantung Stasiun

00:15 WIB

Makhluk itu berdiri di atas Kereta 00:14.

Diam.

Tidak bergerak.

Namun seluruh stasiun bergetar mengikuti detak jam raksasa di dadanya.

TOK.
TOK.
TOK.

Setiap detakan terasa seperti pukulan langsung ke dada.

Sulit bernapas.

Sulit berpikir.

Sulit membedakan mana kenyataan dan mana kenangan.

. . .

Raka menatap sosok raksasa itu.

Tubuhnya tersusun dari kabut hitam yang terus bergerak.

Di dalam kabut itu...

terlihat ribuan wajah.

Muncul sesaat.

Lalu tenggelam lagi.

Wajah orang tua.

Anak-anak.

Tentara.

Pedagang.

Mahasiswa.

Semua orang yang pernah hilang.

Semua menjadi bagian dari tubuhnya.

. . .

Nara menggenggam lentera erat.

Api biru di dalamnya berkedip lemah.

"Jangan lihat wajah-wajah itu terlalu lama."

bisiknya.

"Kalau mereka mengenalimu..."
"...mereka akan mengingatmu."

Raka tidak mengerti.

Namun ia tidak sempat bertanya.

Karena salah satu wajah di tubuh makhluk itu muncul lebih jelas.

Sangat jelas.

Terlalu jelas.

Itu wajah Mira.

. . .

Jantung Raka serasa berhenti.

"Mira!"

Ia melangkah maju.

Namun wajah itu menghilang kembali ke dalam kabut.

Digantikan ratusan wajah lain.

Pria tua yang menyerupai dirinya langsung menarik lengannya.

"Jangan!"
"Itu yang dia inginkan."

Raka menoleh.

"Apa dia memakan mereka?"

Pria tua itu terdiam cukup lama.

Lalu menjawab:

"Tidak."
"Yang lebih buruk dari itu."
. . .

Angin dingin tiba-tiba bertiup di seluruh stasiun.

Jam raksasa di dada makhluk itu mulai membuka.

Seperti pintu.

Perlahan.

KRAAAAKKK...

Di dalamnya...

bukan roda gigi.

Bukan mesin.

Bukan mekanisme jam.

Melainkan sebuah ruangan.

Ruangan yang sangat familiar.

Karena itu adalah ruang tunggu Stasiun Pasar Senen.

Tepat seperti yang diingat Raka.

Lengkap.

Seolah ada dunia lain di dalam tubuh makhluk tersebut.

. . .

Dan di kursi ruang tunggu itu...

duduk Mira.

Sendirian.

Masih memakai pakaian yang sama saat ia menghilang.

Masih berusia sama.

Tidak berubah sedikit pun.

Perlahan...

Mira mengangkat kepala.

Menatap langsung ke arah Raka.

"Kak..."

Air mata langsung memenuhi mata Raka.

Untuk pertama kalinya sejak awal cerita...

ia benar-benar melihat adiknya.

. . .

Namun pria tua itu justru tampak semakin takut.

"Itu jebakan."

Suara pria itu bergetar.

"Karena aku pernah melihat hal yang sama."

Raka tidak mendengarkan.

Seluruh perhatiannya tertuju pada Mira.

Pada satu-satunya alasan ia datang sejauh ini.

. . .

Makhluk raksasa itu akhirnya berbicara.

Untuk pertama kalinya.

Dan suaranya terdengar dari seluruh stasiun sekaligus.

"Aku tidak mencuri mereka."
"Aku menyimpan mereka."
"Aku memberi mereka tempat ketika dunia melupakan mereka."

Peron bergetar.

Rel bergetar.

Udara bergetar.

Setiap kata terasa seperti hukum alam.

. . .

Nara maju selangkah.

"Kau menahan mereka."

Makhluk itu diam beberapa detik.

Lalu menjawab:

"Mereka memilih tinggal."

Jawaban itu membuat seluruh stasiun sunyi.

Karena jauh di dalam hati mereka...

mereka tahu.

Mungkin itu benar.

. . .

Makhluk itu kemudian menatap Raka.

Tidak memiliki mata.

Namun Raka dapat merasakan tatapannya.

"Kau datang mencarinya."
"Aku bisa mengembalikannya."

Napas Raka tercekat.

"Tapi..."

Jam raksasa di dada makhluk itu berdetak lebih keras.

TOK!
"...setiap perjalanan membutuhkan penjaga."
. . .

Pria tua itu langsung berteriak.

"JANGAN DENGARKAN DIA!"

Namun makhluk itu melanjutkan.

"Ardian sudah lelah."
"Kau keturunannya."
"Kau memahami kehilangan."
"Kau memenuhi syarat."

Seluruh stasiun kembali berguncang.

Ribuan penumpang tanpa wajah berlutut bersamaan.

"PENJAGA."
"PENJAGA."
"PENJAGA."
. . .

Dan tepat ketika Raka hampir menjawab...

sesuatu yang mustahil terjadi.

Lentera biru milik Nara padam.

PFFFT.

Gelap.

Total.

Hanya sepersekian detik.

Namun ketika cahaya kembali...

Nara sudah tidak ada.

Lenyap.

Tanpa suara.

Tanpa jejak.

Seolah tidak pernah berdiri di sana.

. . .

Raka membelalak.

"NARA?!"

Tidak ada jawaban.

Yang terdengar hanya suara makhluk itu.

"Sekarang..."
"...pilih siapa yang ingin kau selamatkan."

Dan untuk pertama kalinya...

Raka menyadari kenyataan yang jauh lebih mengerikan.

Mungkin ia tidak bisa menyelamatkan semua orang.

— END OF CHAPTER 20 —
Baca Cerita Selanjutnya di Stasiun Ketiga Belas (Season 2)

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 20 : Jantung Stasiun bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 20 : Jantung Stasiun bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 20 : Jantung Stasiun online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 20 : Jantung Stasiun baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 20 : Jantung Stasiun chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi