Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 4 : Peron Tiga Belas

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 4 : Peron Tiga Belas bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 4 — Peron Tiga Belas

19:24 WIB

Stasiun Pasar Senen lebih ramai dari biasanya.

Orang-orang berjalan cepat sambil membawa koper, tas ransel, dan kantong plastik makanan.

Suara pengumuman bersahut-sahutan dari pengeras suara.

Kereta datang.

Kereta pergi.

Semua terasa normal.

Terlalu normal.

Dan justru itu yang membuat dada Raka terasa tidak nyaman.

Karena di tengah keramaian itu...

ia masih bisa melihat sosok kondektur berdiri diam di ujung peron.

Tidak bergerak.

Tidak berkedip.

Hanya menatap lurus ke arahnya.

DUMMMMMM—

Sebuah kereta melintas cepat di jalur sebelah.

Orang-orang refleks mundur beberapa langkah.

Namun ketika kereta lewat...

sosok kondektur itu menghilang.

Begitu saja.

•••

Raka berjalan cepat menyusuri peron.

Matanya terus mencari.

Topi hitam.

Seragam gelap.

Apa pun.

Namun yang ia temukan hanya kerumunan manusia biasa.

Pedagang minuman.

Anak kecil menangis.

Orang-orang yang sibuk dengan perjalanan mereka sendiri.

Dan untuk sesaat, Raka mulai merasa dirinya gila.

Sampai ia melihat sesuatu di papan petunjuk jalur.

Di antara angka:

1
2
3

Ada satu angka lain yang muncul samar.

Seperti bayangan.

13

Raka membeku.

Kedipan berikutnya...

angka itu hilang lagi.

•••

Hujan mulai turun saat malam semakin larut.

Raka duduk sendirian di kursi peron sambil memegang tiket tua itu.

Pikirannya kacau.

Tentang Mira.

Tentang perempuan misterius bernama Nara.

Dan tentang kondektur yang terus muncul.

Ia bahkan belum tahu:

apakah semua ini nyata...

atau hanya akibat rasa bersalah yang tidak pernah hilang sejak adiknya menghilang.

“Kamu kelihatan seperti orang yang belum tidur tiga hari.”

Raka menoleh cepat.

Nara berdiri di samping mesin minuman otomatis sambil membawa dua gelas kopi.

Sweater coklat oversized itu masih sama seperti tadi siang.

Namun kali ini rambutnya sedikit basah oleh hujan.

Ia menyerahkan satu kopi pada Raka.

“Kamu ngikutin aku?”

Nara mengangkat bahu kecil.

“Atau mungkin...”

“kita memang menuju tempat yang sama.”

Raka menatapnya lama.

Semakin lama melihat perempuan itu, semakin aneh rasanya.

Karena tidak ada seorang pun yang benar-benar memperhatikannya.

Orang-orang berlalu lalang begitu saja.

Seolah Nara tidak ada.

Raka perlahan berdiri.

“Kamu tahu apa itu Peron Tiga Belas?”

Nara terdiam beberapa detik.

Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.

Dan suasana stasiun terasa jauh lebih dingin.

“Kalau kamu mulai melihat peron itu...”

“artinya mereka sudah mulai melihatmu juga.”

Raka mengernyit.

“Mereka siapa?”

Nara tidak menjawab.

Sebaliknya, ia menatap rel gelap di depan mereka.

“Pernah nggak kamu sadar...”

“ada orang yang sebenarnya masih berdiri di stasiun...”

“meskipun keretanya sudah pergi lama?”

Angin malam berembus dingin melewati peron.

shhhhhhh...

Dan tiba-tiba...

seluruh lampu stasiun padam.

KREKK—

Gelap.

Orang-orang mulai panik kecil.

Beberapa penumpang menyalakan flashlight ponsel.

Namun di tengah kegelapan itu...

Raka mendengar suara lain.

Suara rel bergetar.

DUMMMMMM...

Matanya perlahan membesar.

Karena jalur di depan mereka...

perlahan berubah.

Rel tambahan muncul dari kegelapan.

Satu jalur baru.

Basah.

Berkabut.

Dan tidak seharusnya ada di sana.

“Peron...”

Suara Raka melemah.

“...tiga belas.”

Kabut tipis memenuhi ujung rel.

Dan dari dalam kabut itu...

lampu kereta mulai terlihat perlahan.

Satu per satu.

Kuning pucat.

Seperti mata yang terbuka di tengah malam.

“Jangan lihat terlalu lama.”

Suara Nara terdengar pelan di sampingnya.

Namun Raka tidak bisa berpaling.

Karena di jendela kereta paling depan...

ia melihat seseorang berdiri di dalam sana.

Seorang anak kecil memakai jas hujan kuning.

Mira.

Dan kali ini...

ia tidak sendirian.

Puluhan orang lain berdiri diam di belakangnya.

Wajah pucat.

Mata kosong.

Seperti penumpang yang sudah terlalu lama menunggu.

“Kereta tujuan Perjalanan Lanjutan...”

Suara pengumuman menggema dari seluruh stasiun.

“akan segera tiba.”

Dan tepat saat kereta itu mulai mendekat...

Raka sadar sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Tidak ada satu pun orang di sekitar mereka yang melihatnya.

Stasiun tetap ramai.

Orang-orang tetap berjalan normal.

Seolah kereta itu...

hanya muncul untuk dirinya.

— END OF CHAPTER 4 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 4 : Peron Tiga Belas bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 4 : Peron Tiga Belas bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 4 : Peron Tiga Belas online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 4 : Peron Tiga Belas baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 4 : Peron Tiga Belas chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi