Stasiun Ketiga Belas - Stasiun Ketiga Belas Chapter 5 : Penumpang Yang Menunggu
Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 5 : Penumpang Yang Menunggu bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.
Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]
STASIUN KETIGA BELAS
Chapter 5 — Penumpang yang Menunggu
Kereta itu bergerak perlahan keluar dari kabut.
Tidak ada suara roda.
Tidak ada gesekan besi.
Hanya bunyi rendah yang terasa seperti dengungan jauh di dalam kepala.
Lampu kuning pucat di bagian depan kereta menembus hujan malam.
Dan di balik jendela-jendelanya...
wajah-wajah itu masih berdiri diam.
Pucat.
Kosong.
Seperti orang yang lupa bagaimana caranya hidup.
Mira berada paling depan.
Jas hujan kuningnya tampak kusam di bawah cahaya redup gerbong.
Ia menatap lurus ke arah Raka.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Suara Raka hampir hilang ditelan hujan.
Tangannya mulai gemetar.
Ia melangkah mendekati rel.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Nara langsung menarik lengan hoodie Raka.
Pegangannya dingin.
Sangat dingin.
“jangan pernah mendekat sebelum pintunya terbuka sendiri.”
Raka menoleh cepat.
“Mira masih hidup!”
Nara menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan:
Kereta akhirnya berhenti tepat di jalur misterius itu.
Kabut bergerak pelan di bawah roda-roda besinya.
Namun tidak ada satu pun pintu yang terbuka.
Seluruh stasiun masih berjalan normal di belakang mereka.
Orang-orang membeli makanan.
Anak kecil tertawa.
Petugas stasiun lewat sambil membawa peluit.
Tidak ada yang melihat kereta itu.
Tidak ada yang sadar ada jalur tambahan muncul di tengah stasiun.
Seolah dunia terbagi dua.
Dan Raka berada tepat di batasnya.
tik...
Jam digital di atas peron mulai berkedip aneh.
23:59
23:59
23:59
Tidak berubah.
Seolah waktu berhenti bergerak.
Suara Raka melemah.
Nara memandang kereta tanpa ekspresi.
“Karena kereta itu datang buat orang tertentu.”
“Orang-orang yang belum selesai.”
Raka mengingat kata-kata itu pelan.
Belum selesai.
Apakah Mira juga seperti itu?
Atau justru dirinya sendiri?
Tiba-tiba...
Salah satu pintu gerbong terbuka.
Perlahan.
Gelap pekat terlihat di dalamnya.
Tidak ada lampu.
Tidak ada kursi yang terlihat jelas.
Hanya lorong hitam panjang seperti mulut terowongan.
Udara dingin langsung keluar dari dalam gerbong.
Membawa aroma besi basah dan sesuatu yang samar...
seperti tanah kuburan setelah hujan.
Dan lalu...
seseorang turun dari kereta.
Seorang pria tua.
Pakaiannya lusuh.
Matanya kosong.
Ia berjalan pelan melewati Raka tanpa melihat ke kanan maupun kiri.
Seperti orang linglung yang baru bangun tidur.
Raka refleks memanggil.
Namun pria itu tidak menjawab.
Ia terus berjalan menuju keramaian stasiun.
Dan hal yang paling mengerikan:
orang-orang otomatis memberi jalan untuknya...
meski tidak benar-benar melihatnya.
Seolah tubuh mereka sadar akan keberadaannya, tetapi pikiran mereka tidak.
Nara menggigit bibir pelan.
“Penumpang yang berhasil turun.”
“Kadang...”
“ada yang kembali.”
Raka langsung menoleh.
Sunyi.
Hujan terdengar semakin keras.
Pria tua itu berhenti di tengah peron.
Tubuhnya sedikit gemetar.
Lalu perlahan...
ia menoleh ke arah papan jadwal digital.
Matanya membesar.
Seperti baru sadar sesuatu.
Suaranya serak.
“aku cuma naik sebentar...”
Orang-orang di sekitar mulai memperhatikannya aneh.
Beberapa menjauh perlahan.
Pria itu memegang kepalanya sendiri.
Panik.
Kebingungan.
“anak saya masih kecil...”
Ia menoleh ke arah seorang petugas stasiun yang lewat.
“ini tahun berapa?”
Petugas itu terlihat bingung.
Dan tepat saat itu...
wajah pria tua tersebut berubah pucat total.
Air matanya jatuh perlahan.
“saya naik kereta itu tahun 2001.”
Tubuh Raka langsung membeku.
Napasnya tercekat.
Dua puluh lima tahun.
Bagi pria itu, semuanya hanya terasa beberapa menit.
Suara kereta kembali menggema.
Pintu gerbong mulai tertutup perlahan.
Dan di balik jendela...
Mira masih berdiri di sana.
Menatap Raka.
Seolah menunggu sesuatu.
Seolah berharap ia ikut naik.
Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 5 : Penumpang Yang Menunggu bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 5 : Penumpang Yang Menunggu bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 5 : Penumpang Yang Menunggu online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 5 : Penumpang Yang Menunggu baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 5 : Penumpang Yang Menunggu chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Komentar (0)