Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 6 : Orang Yang Kembali

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 6 : Orang Yang Kembali bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 6 — Orang yang Kembali

00:12 WIB

Mira masih berdiri di balik jendela gerbong.

Diam.

Tidak bergerak.

Tatapannya lurus ke arah Raka, seolah seluruh dunia di sekitarnya sudah menghilang.

Hanya mereka berdua yang tersisa.

“Kak...”

Suara itu terdengar lagi.

Pelan.

Samar.

Namun kali ini, Raka yakin suara itu bukan berasal dari luar.

Melainkan langsung dari dalam kepalanya.

DUMMMMMM...

Kereta mulai bergerak perlahan.

Lampu-lampu kuning di gerbong berkedip lemah di balik hujan.

Dan untuk sesaat, Mira mengangkat tangannya ke kaca jendela.

Seolah meminta tolong.

“MIRA!”

Raka refleks berlari mendekati rel.

Namun sebelum ia sempat melompat...

Nara langsung menarik jaketnya kuat-kuat.

“JANGAN!”

Suara Nara kali ini berbeda.

Panik.

Takut.

Dan itu membuat Raka berhenti.

Kereta perlahan menjauh memasuki kabut.

Gerbong demi gerbong menghilang seperti ditelan malam.

Sampai akhirnya...

hanya suara rel yang tersisa.

DUMMMMM...

Lalu sunyi.

•••

Lampu stasiun kembali normal.

Rel tambahan itu lenyap.

Peron Tiga Belas menghilang begitu saja.

Orang-orang kembali bergerak seperti biasa.

Tidak ada yang sadar sesuatu barusan muncul di tengah stasiun.

Tidak ada yang sadar waktu sempat berhenti.

Dan pria tua tadi...

masih berdiri gemetar di tengah kerumunan.

Matanya merah.

Tubuhnya lemas seperti baru bangun dari mimpi buruk panjang.

“Pak...”

Seorang petugas mencoba mendekat hati-hati.

“Bapak keluarga siapa? Ada yang bisa dihubungi?”

Pria itu tidak langsung menjawab.

Ia hanya melihat kedua tangannya sendiri.

Keriput.

Tua.

Bergetar.

Dan perlahan...

ia mulai menangis.

“Anak saya...”

“harusnya sekarang sudah lebih tua dari saya.”

Kalimat itu membuat dada Raka terasa sesak.

Ia tidak bisa membayangkan:

bagaimana rasanya kehilangan dua puluh lima tahun hanya dalam satu perjalanan.

•••

Malam semakin larut.

Hujan mulai mengecil.

Raka dan Nara duduk di bangku kosong dekat ujung peron.

Tidak ada yang bicara cukup lama.

Sampai akhirnya Raka membuka suara pelan.

“Kereta itu sebenarnya apa?”

Nara menatap rel gelap di depan mereka.

Matanya terlihat lelah.

“Nggak ada yang benar-benar tahu.”

“Ada yang bilang itu tempat persinggahan.”

“Ada yang bilang itu hukuman.”

“Ada juga yang percaya...”

“itu cuma perjalanan buat orang-orang yang belum bisa pergi.”

Angin malam berembus dingin melewati peron.

Raka menunduk melihat tiket tua di tangannya.

“Kalau seseorang naik ke kereta itu...”

“apa dia bisa kembali?”

Nara terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Kadang.”

“Tapi semakin lama mereka di sana...”

“semakin sedikit bagian diri mereka yang tersisa.”

Raka mengingat mata kosong Mira di dalam gerbong.

Tatapan itu bukan tatapan manusia hidup.

Namun juga bukan orang mati.

Seolah Mira berada di antara dua tempat.

•••

Pukul 01:43 WIB.

Stasiun mulai sepi.

Petugas tadi membawa pria tua itu ke ruang keamanan.

Namun sebelum pergi...

pria itu sempat menghentikan langkah Raka.

Tangannya dingin saat menggenggam lengan hoodie Raka.

“Jangan naik kereta itu.”

Matanya gemetar penuh ketakutan.

“Di dalam sana...”

“waktu nggak berjalan normal.”

Raka menatapnya serius.

“Apa yang ada di ujung perjalanan?”

Pria tua itu membisu.

Untuk beberapa detik, ekspresinya berubah kosong.

Seolah pikirannya tiba-tiba menghilang.

Lalu pelan-pelan, ia berbisik:

“Ada stasiun terakhir.”

Napas Raka tertahan.

“Dan kalau kereta itu sampai di sana...”

“penumpangnya nggak akan bisa turun lagi.”

Tubuh Raka langsung dingin.

Ia ingin bertanya lebih banyak.

Namun pria tua itu tiba-tiba terlihat panik.

Matanya membesar ke arah belakang Raka.

“Dia ada di sini...”

Suaranya bergetar hebat.

“Dia ikut turun.”

Raka langsung menoleh cepat.

Awalnya tidak ada apa-apa.

Hanya peron kosong dan cahaya lampu redup.

Namun kemudian...

di ujung stasiun, seseorang berdiri diam di bawah papan jadwal.

Seragam hitam.

Topi kondektur tua.

Dan kali ini...

wajahnya terlihat sedikit lebih jelas.

Kulit pucat.

Senyum tipis.

Terlalu tipis untuk disebut manusia.

“Tiket Anda...”

Suara itu menggema pelan, padahal jaraknya sangat jauh.

“masih berlaku.”

Lampu stasiun langsung berkedip hebat.

KREKKK—

Dan saat cahaya kembali normal...

sosok kondektur itu sudah menghilang.

— END OF CHAPTER 6 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 6 : Orang Yang Kembali bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 6 : Orang Yang Kembali bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 6 : Orang Yang Kembali online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 6 : Orang Yang Kembali baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 6 : Orang Yang Kembali chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi