Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 8 : Bayangan di Belakang Kursi

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 8 : Bayangan di Belakang Kursi bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 8 — Bayangan di Belakang Kursi

00:13 WIB

Bayangan itu tidak bergerak.

Namun semakin lama Raka menatapnya...

semakin jelas bentuknya menyerupai seseorang.

Topi tinggi.

Bahu tegak.

Dan tubuh kurus seperti sosok kondektur yang selalu muncul di stasiun.

duk...
duk...
duk...

Detak jantung Raka mulai terasa terlalu keras.

Ia perlahan berdiri dari kursi kantin.

Bayangan di lantai ikut memanjang.

Namun saat ia menoleh ke belakang...

tidak ada siapa-siapa.

Hanya dinding putih kusam, lemari minuman, dan suara kipas tua berdecit dari langit-langit.

kreeek...

Seorang pegawai kantin lewat sambil membawa mie instan.

Ia tampak normal.

Tidak panik.

Tidak melihat apa pun.

Namun ketika pegawai itu melewati meja Raka...

ia berhenti sebentar.

Hidungnya sedikit mengernyit.

“Mas...”

“cium bau rel kebakar nggak?”

Raka langsung membeku.

Karena ia memang mencium bau itu sejak tadi.

Besi panas.

Asap.

Dan hujan.

Persis seperti aroma yang keluar dari kereta misterius itu.

•••

Sore hari, langit Jakarta kembali mendung.

Raka berdiri di depan sebuah rumah kecil di daerah Jatinegara.

Rumah milik pria tua yang turun dari kereta semalam.

Alamatnya ia dapat dari arsip lama.

Cat rumah itu sudah kusam.

Pagar besinya berkarat.

Namun ada satu hal yang membuat Raka berhenti:

di teras rumah, terdapat foto pria tua itu.

Dengan pita hitam di sudut bingkai.

Foto orang meninggal.

Napas Raka langsung terasa berat.

“Mas cari siapa?”

Seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu.

Matanya lelah, namun ramah.

Raka ragu beberapa detik sebelum menjawab.

“Saya...”

“mau tanya soal Pak Hadi.”

Perempuan itu langsung diam.

Ekspresinya berubah aneh.

“Bapak saya sudah meninggal.”

Kalimat itu membuat udara terasa jauh lebih dingin.

Raka perlahan mengeluarkan foto arsip dari tasnya.

“Kalau saya bilang...”

“saya melihat beliau semalam?”

Sunyi.

Perempuan itu tidak marah.

Tidak kaget.

Ia justru terlihat pucat.

Seolah pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.

“Masuk aja.”
•••

Ruang tamu rumah itu dipenuhi foto keluarga lama.

Dan di sudut ruangan, terdapat jam dinding tua.

Jarumnya berhenti di:

00:13

Raka langsung menatap jam itu cukup lama.

Perempuan tadi duduk pelan di seberangnya.

“Nama saya Ratih.”

“Pak Hadi itu ayah saya.”

Tangannya menggenggam cangkir teh hangat, namun sedikit gemetar.

“Beliau hilang tahun 2001.”

“Waktu saya masih SMP.”

Raka menelan ludah pelan.

“Kemarin...”

“saya lihat beliau turun dari kereta.”

Ratih menunduk.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Bukan cuma Mas.”

Raka mengangkat kepala cepat.

“Apa?”

Ratih menarik napas panjang.

“Dua belas tahun lalu...”

“ibu saya juga pernah lihat beliau.”

Hujan mulai terdengar dari luar rumah.

“Waktu itu tengah malam.”

“Bapak berdiri di depan pagar.”

“Basah kuyup.”

“Masih pakai baju yang sama waktu beliau hilang.”

Raka merasakan bulu kuduknya berdiri perlahan.

“Ibu saya manggil beliau...”

“tapi bapak cuma diam.”

Ratih menggigit bibirnya sendiri.

“Lalu beliau bilang...”

Suara perempuan itu mulai bergetar.

“‘Keretanya belum sampai.’”

Sunyi memenuhi ruang tamu kecil itu.

Hanya suara hujan yang tersisa.

•••

Malam hari.

Raka pulang melewati jembatan rel dekat apartemennya.

Hujan turun pelan membasahi kota.

Lampu jalan memantul di rel basah seperti garis cahaya panjang.

Ia masih memikirkan ucapan Ratih.

“Keretanya belum sampai.”

Apa sebenarnya tujuan akhir kereta itu?

Dan kenapa para penumpangnya terus kembali?

DUMMMMMM...

Raka berhenti berjalan.

Suara itu lagi.

Padahal tidak ada jadwal kereta malam lewat sekarang.

Ia perlahan menoleh ke arah rel gelap di bawah jembatan.

Kabut tipis mulai muncul.

Lampu rel menyala satu per satu.

Dan di kejauhan...

sesuatu bergerak perlahan dari dalam hujan.

Kereta itu datang lagi.

Namun kali ini...

kereta tersebut berjalan jauh lebih lambat.

Seolah sengaja berhenti tepat di bawah jembatan tempat Raka berdiri.

Lampu gerbong berkedip pelan.

Dan satu per satu...

para penumpang mulai menoleh ke atas.

Ke arah Raka.

Puluhan wajah pucat menatap tanpa berkedip.

Termasuk Mira.

Dan di antara semua wajah itu...

Raka melihat sesuatu yang membuat tubuhnya langsung dingin.

Di salah satu jendela belakang, ada seseorang yang sangat mirip dirinya sendiri.

Berdiri diam.

Menatap keluar dari dalam gerbong.

— END OF CHAPTER 8 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 8 : Bayangan di Belakang Kursi bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 8 : Bayangan di Belakang Kursi bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 8 : Bayangan di Belakang Kursi online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 8 : Bayangan di Belakang Kursi baru komiku, Stasiun Ketiga Belas Stasiun Ketiga Belas Chapter 8 : Bayangan di Belakang Kursi chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi