Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Seniman Digital Gang Sempit Chapter 03 : Harga Sebuah Idealisme

Baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 03 : Harga Sebuah Idealisme bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Seniman Digital Gang Sempit bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

Seniman Digital Gang Sempit

Chapter 03 - Harga Sebuah Idealisme


Seminggu setelah proyek Pak Haji selesai, notifikasi LinkedIn gue mendadak ramai. Rupanya, foto gerobak kerak telor Pak Haji yang baru—lengkap dengan logo vektor hitam-emas hasil polesan CorelDraw gue—viral setelah diunggah oleh seorang influencer kuliner yang kebetulan lewat.


Di tengah ratusan komentar, satu pesan masuk ke kotak surat D-Hub. Bukan dari pemilik warung tenda atau pengusaha gerobakan, melainkan dari seorang manajer pemasaran sebuah brand kopi franchise besar yang punya cabang di hampir seluruh mall di Jakarta.

. . .
12.30

Pertemuan dijadwalkan di sebuah kafe di daerah SCBD. Gue datang dengan motor matic tua gue yang terlihat sangat "salah kostum" di antara deretan mobil mewah yang mengkilap.


"Mas Emrive? Saya Kevin,"

sapa pria itu. Rambutnya klimis, jam tangannya mungkin bisa buat beli sepuluh unit motor kayak punya gue.


Gue duduk, merasa hawa AC di sini terlalu dingin, atau mungkin cuma perasaan gue yang mendadak rindu bau asap arang Pak Haji.


"Kami suka apa yang Mas lakukan dengan gerobak kerak telor itu. Sangat... urban, edgy, and authentic,"

kata Kevin sambil menyesap espresso-nya.

"Kami mau Mas bikin kampanye serupa untuk produk baru kami: 'Kopi Gula Aren Lokal'. Kami ingin visual yang terlihat 'miskin tapi estetik'. Mas tahu kan, tren poverty porn yang lagi laku sekarang? Kami ingin kesan gang sempit Jakarta, tapi buat dijual di mall."
. . .

Gue terdiam. Kata-kata "miskin tapi estetik" itu terasa seperti tamparan di wajah gue. Gue teringat perjuangan Emrive kecil di bilik warnet, teringat tangan kasar Pak Haji, dan teringat alasan gue resign dari kantor lama.


"Maksud Mas Kevin, Mas mau saya menggunakan narasi perjuangan warga lokal cuma buat kepentingan branding perusahaan besar?"

tanya gue, mencoba menahan nada bicara agar tetap profesional.


"Ya, begitulah bahasa bisnisnya, Mas Emrive. Kami punya AI yang bisa bikin gambar gang sempit dalam sekejap, tapi bos saya bilang hasil AI kami terlalu 'bersih'. Kami butuh 'rasa' yang Mas punya. Mas kan anak lokal, pasti tahu caranya bikin kemiskinan jadi terlihat... cantik di kamera."
. . .

Gue membuka laptop. Gue menjalankan Photoshop, tapi bukan untuk menggambar. Gue menunjukkan beberapa file kerja gue untuk Pak Haji. Gue tunjukkan setiap layer tekstur yang gue buat manual untuk menghormati sejarah beliau.


"Mas Kevin, bagi Mas ini mungkin soal tren. Tapi buat saya, ini soal martabat. Saya nggak bisa menjual 'penderitaan' orang untuk jadi pemanis di gelas plastik seharga lima puluh ribu rupiah," ujar gue tenang tapi tegas.

Kevin tertawa kecil, seolah gue baru saja melontarkan lelucon bodoh.

"Mas Emrive, jangan terlalu idealis. Kita bicara soal kontrak besar di sini. Angka yang kami tawarkan bisa buat Mas beli laptop baru atau sewa kantor di gedung ini. AI bisa melakukan kerja teknisnya, Mas tinggal kasih 'jiwa' sedikit saja."
. . .

Gue menutup laptop gue. Bunyi klik itu terdengar sangat mantap di telinga gue.


"Maaf, Mas Kevin. D-Hub dibangun bukan untuk memoles kemiskinan jadi komoditas. Saya menggunakan teknologi, mulai dari Photoshop sampai AI, untuk mengangkat derajat UMKM, bukan untuk mengeksploitasinya. Kalau Mas mau desain yang 'terlihat' lokal tapi nggak punya hati, silakan pakai prompt AI Mas saja. Saya yakin hasilnya bakal cocok sama kopi Mas yang... dingin."

Gue berdiri, meninggalkan Kevin yang tampak melongo. Dia mungkin nggak terbiasa ditolak oleh desainer "pinggiran" dengan motor tua.

. . .

Saat gue berjalan menuju parkiran, handphone gue bergetar. Sebuah pesan dari Bang Jali, pemilik warkop.


[Bang Jali]:

"Riv, ada temen gue penjual es potong di depan SD. Katanya gerobaknya mau digambar biar keren kayak kerak telor Pak Haji. Bayarnya cicil pake es boleh nggak?"

Gue tertawa sendirian di parkiran SCBD yang angkuh itu. Gue memakai helm bogo gue, menyalakan mesin motor yang bergetar hebat, dan melesat membelah kemacetan Jakarta.


Hari ini gue kehilangan kontrak jutaan rupiah, tapi gue baru saja menyelamatkan sesuatu yang harganya jauh lebih mahal: harga diri gue sebagai manusia.

. . .

Gue melirik logo D-Hub di layar kunci HP gue. Gue tahu, malam ini gue bakal lembur lagi di depan CorelDraw, mengerjakan desain es potong untuk seorang bapak yang hanya bisa bayar pake barter. Tapi buat gue, itu jauh lebih berharga daripada semua espresso di SCBD.


Karena di Jakarta, integritas itu barang langka. Dan gue nggak berencana buat menjualnya, semurah apa pun AI bisa menduplikasinya.

- End of Chapter 03 -

Tags: baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 03 : Harga Sebuah Idealisme bahasa Indonesia, komik Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 03 : Harga Sebuah Idealisme bahasa komik Indonesia, baca Seniman Digital Gang Sempit Chapter 03 : Harga Sebuah Idealisme online, Seniman Digital Gang Sempit Chapter 03 : Harga Sebuah Idealisme baru komiku, Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 03 : Harga Sebuah Idealisme chapter, high quality sub indo, Seniman Digital Gang Sempit manga scan terbaru, manhwa web, , DesainerHub

Rekomendasi