Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Seniman Digital Gang Sempit Chapter 04 : Proyek Es Potong Dan Rejeki Barter

Baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 04 : Proyek Es Potong Dan Rejeki Barter bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Seniman Digital Gang Sempit bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

Seniman Digital Gang Sempit

Chapter 04 - Proyek Es Potong dan Rejeki Barter

14.15

Matahari Jakarta jam dua siang itu nggak punya belas kasihan. Panasnya sanggup membuat aspal terlihat bergelombang, dan helm bogo gue rasanya seperti panci presto yang siap meledakkan kepala gue. Gue menepi di depan sebuah SD Negeri di daerah Rawamangun, tempat Bang Jali bilang temannya mangkal.


"Mas Emrive, ya?"

Seorang pria paruh baya dengan topi lusuh melambaikan tangan. Di sampingnya ada gerobak es potong tradisional yang warnanya sudah tidak jelas antara kelabu atau putih kusam.


"Iya, Pak. Saya Emrive,"

gue menyalami tangannya yang dingin—kontras dengan cuaca, mungkin karena seharian berkutat dengan potongan es batu.


Namanya Pak Rohman. Dia sudah berjualan es potong sejak zaman uang koin masih punya lubang di tengahnya.

"Aduh Mas, saya malu sebenarnya. Bang Jali cerita soal Pak Haji Solihin yang gerobaknya jadi kayak hotel bintang lima. Saya pengen, tapi ya Mas tahu sendiri..."

Pak Rohman menunduk, menatap kaleng esnya.

"Saya cuma bisa bayar Mas pakai es potong setiap hari selama sebulan. Atau saya cicil dikit-dikit pas ada rejeki lebih."

Gue tersenyum, teringat tawaran jutaan rupiah dari Kevin di SCBD kemarin yang gue tolak mentah-mentah.

"Tenang, Pak. Kita nggak cuma bicara soal uang di sini. Kita bicara soal biar anak-anak SD ini nggak lebih milih es krim pabrikan di minimarket sebelah."

Gue mulai bekerja. Proyek ini lebih sulit secara teknis karena permukaan gerobak Pak Rohman penuh dengan lekukan besi dan paku-paku payung. Gue mengeluarkan kamera saku, memotret setiap sudut gerobak untuk gue jadikan mock-up di Photoshop.


Malamnya, di "kantor" warkop Bang Jali, gue mulai bertempur.


Gue membuka CorelDraw. Konsepnya kali ini adalah Pop-Art Retro. Gue ingin es potong ini terlihat "fun" tapi tetap klasik. Gue menarik garis-garis vektor tebal, membentuk ilustrasi es potong dengan warna-warna pastel yang ceria—hijau pandan, pink stroberi, dan cokelat legit.


"Lagi bikin apaan, Riv? Serius amat,"

Andre tiba-tiba muncul, mengintip layar laptop gue.

"Loh? Es potong? Masih lanjut proyek amal?"

Gue nggak menoleh.

"Bukan amal, Dre. Ini investasi. Investasi kebahagiaan anak-anak SD."

Andre mencibir, lalu menunjukkan tabletnya.

"Lihat nih, gue barusan dapet side-job bikin logo perumahan. Pake AI, cuma sepuluh menit, dapet lima juta. Lo? Ngerjain ginian pake ditarik satu-satu vektornya? Capek, Riv."

"Dre,"

gue berhenti menarik garis node di CorelDraw.

"AI lo bisa nggak bikin tekstur es yang kelihatan 'kristal' pas baru dipotong? Bisa nggak dia bikin font yang kalau dilihat anak kecil, mereka langsung kerasa dingin di tenggorokan?"

Gue memindahkan file vektor gue ke Photoshop. Di sana, gue menggunakan teknik masking dan blending mode tingkat tinggi untuk memberikan efek embun pada desain stiker yang akan dicetak nanti. Gue juga menambahkan elemen paper texture agar desainnya terlihat seperti bungkus es zaman dulu yang legendaris.


Gue menggunakan AI sebagai asisten hanya untuk satu hal: menghasilkan ide pola geometris khas Betawi yang bisa gue sisipkan secara halus sebagai background tipis di pojok desain. Selebihnya, adalah hasil perasan otak gue sendiri.


Dua hari kemudian, gerobak Pak Rohman berubah total.

Desain stiker vinyl hasil cetakan gue menempel rapi. Warnanya mencolok tapi tetap enak dipandang. Ada tulisan besar dengan font kustom buatan gue: "ES POTONG RASA MEMORI".


Anak-anak SD yang baru keluar gerbang langsung mengerubuti gerobak Pak Rohman.

"Wah, gerobaknya keren! Kayak di TV!"

seru salah satu bocah sambil menyodorkan uang dua ribuan.


Pak Rohman sibuk memotong es dengan wajah yang berseri-seri. Saat jalanan mulai sepi, dia menyodorkan sepotong es rasa cokelat ke gue.


"Mas Emrive, makasih banyak. Hari ini dagangan saya habis lebih cepet dua jam dari biasanya,"

kata beliau dengan suara bergetar.


Gue menerima es itu, menggigitnya, dan merasakan sensasi dingin yang luar biasa nikmat di tengah gerah Jakarta.


"Mas, ini es paling enak yang pernah saya makan," ujar gue jujur.

Gue pulang dengan saku celana yang memang tidak bertambah tebal, tapi perasaan di dada gue jauh lebih ringan. D-Hub mungkin belum punya kantor dengan dinding kaca, tapi setidaknya desain gue sudah berhasil membuat seorang bapak pulang lebih awal untuk ketemu keluarganya.


Di bawah lampu jalanan Rawamangun, gue sadar satu hal: AI mungkin bisa mendesain segalanya, tapi dia nggak akan pernah bisa merasakan betapa manisnya rasa es potong yang didapat dari hasil kerja keras dan ketulusan.


Besok, mungkin ada klien lain lagi. Entah bayar pakai uang, atau pakai doa. Dan gue siap untuk keduanya.

- End of Chapter 04 -

Tags: baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 04 : Proyek Es Potong Dan Rejeki Barter bahasa Indonesia, komik Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 04 : Proyek Es Potong Dan Rejeki Barter bahasa komik Indonesia, baca Seniman Digital Gang Sempit Chapter 04 : Proyek Es Potong Dan Rejeki Barter online, Seniman Digital Gang Sempit Chapter 04 : Proyek Es Potong Dan Rejeki Barter baru komiku, Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 04 : Proyek Es Potong Dan Rejeki Barter chapter, high quality sub indo, Seniman Digital Gang Sempit manga scan terbaru, manhwa web, , DesainerHub

Rekomendasi