Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Seniman Digital Gang Sempit Chapter 05 : Antara Prompt dan Perasaan

Baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 05 : Antara Prompt dan Perasaan bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Seniman Digital Gang Sempit bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

Seniman Digital Gang Sempit

Chapter 05 - Antara Prompt Dan Perasaan

16:30

Minggu ini, Jakarta sedang tidak bersahabat. Hujan turun tanpa permisi setiap sore, menyisakan bau tanah dan genangan air yang memantulkan lampu-lampu neon kota.

Di dalam Warkop Bang Jali, uap dari mi instan dan aroma kopi saset menjadi pelarian paling masuk akal bagi siapa pun yang terjebak badai.

. . .
"Riv, ada yang nyariin nih,"

Bang Jali menunjuk ke arah pintu.

Seorang wanita muda dengan jaket denim basah masuk sambil membawa laptop di pelukannya. Dia adalah Gita, pemilik usaha "Kue Pancong Lumer Gita" yang sedang naik daun di media sosial.

"Mas Emrive, saya butuh bantuan darurat,"

kata Gita tanpa basa-basi.

Dia langsung membuka laptopnya dan menunjukkan sebuah gambar.

"Saya coba bikin logo sendiri pakai AI. Hasilnya bagus, Mas. Modern, simetris, dan warnanya neon banget. Tapi..."

Dia terdiam sebentar, menatap logo di layarnya yang memperlihatkan ilustrasi kue pancong yang terlihat seperti pancake Amerika yang terlalu sempurna.

"Tapi kenapa penjualannya malah turun setelah saya pakai logo ini? Pelanggan bilang, mereka nggak ngerasa 'kangen' lagi sama kue saya. Katanya, kue saya jadi kayak makanan pabrik yang nggak punya rasa,"

keluh Gita.

Gue memperhatikan gambar itu. Itulah penyakit utama desain yang hanya mengandalkan prompt. AI membuat kue pancong Gita terlihat seperti objek 3D yang steril. Tidak ada remah-remah gula yang jatuh, tidak ada tekstur lelehan cokelat yang berantakan tapi menggoda, dan tidak ada kehangatan dari loyang besi tua.

"Gita, AI itu pintar, tapi dia nggak pernah makan kue pancong lo di pinggir jalan sambil kehujanan kayak gini,"

ujar gue pelan.

. . .

Gue membuka Photoshop. Gue minta Gita mengambil foto tekstur loyang besinya yang hitam berkerak dan foto asli adonan kuenya yang sedang lumer. Gue masukkan foto itu ke laptop, lalu gue mulai melakukan digital painting secara manual.

"Lo lihat ini?"

Gue menunjuk ke layar. Gue menggunakan brush kustom di Photoshop untuk menciptakan efek "gosong yang pas" di pinggiran ilustrasi kuenya. Gue nggak mau simetri. Gue mau sedikit ketidaksempurnaan, karena di situlah letak keasliannya.

Setelah itu, gue pindah ke CorelDraw. Gue mendesain ulang tipografinya. Gue nggak pakai font standar yang ada di database AI. Gue menarik garis-garis huruf satu per satu, terinspirasi dari lekukan lelehan cokelat yang tadi gue lihat di foto asli.

. . .
"Mas, kok lama banget ya?"

tanya Gita sambil memperhatikan gue menarik node demi node di CorelDraw.

"Teman saya bilang kalau pakai AI tinggal ketik satu kalimat, lima detik jadi."

---
"Gita,"

gue menoleh sebentar.

"Kalau mau cepet, lo beli roti bungkusan di minimarket. Tapi lo kan jualan kue yang dibuat pakai tangan satu-satu. Desain lo harus mencerminkan itu. Gue lagi naruh 'rasa' di setiap lekukan huruf ini supaya orang yang lihat bisa langsung ngebayangin rasa gurih santannya."
. . .

Gue sempat menggunakan AI hanya untuk mensimulasikan bagaimana logo ini terlihat jika ditempel di berbagai media—seperti kotak kemasan atau stiker motor—sebagai riset efisiensi waktu. Tapi intinya tetap ada di tangan gue.

Dua jam kemudian, desain itu selesai. Sebuah logo yang terlihat "berantakan" namun sangat manusiawi. Warnanya cokelat tua pekat dan krem santan, bukan neon yang menyakitkan mata.

"Ini... ini baru Pancong Lumer saya,"

bisik Gita.

"Rasanya kayak bisa dicium baunya dari layar."
. . .

Seminggu kemudian, Gita mengirim pesan. Penjualannya kembali naik. Pelanggan lamanya balik lagi, dan pelanggan baru berdatangan karena merasa visualnya "jujur".

Di pojok warkop, gue melihat Andre sedang sibuk berdebat dengan kliennya di telepon. Sepertinya kliennya komplain karena desain AI-nya mirip dengan milik kompetitor.

Gue cuma bisa menghela napas. Itulah risiko jika hanya mengandalkan algoritma tanpa ada moral dan perasaan di dalamnya.

. . .

Gue menutup laptop. Malam ini, sekali lagi, D-Hub membuktikan bahwa di era mesin, manusia yang punya perasaan adalah pemenang yang sesungguhnya.

"Bang Jali, kopi satu lagi. Gula arennya lebihin, biar kayak desain gue tadi—manis tapi nggak bohong,"

teriak gue disambut tawa Bang Jali.

Jakarta masih hujan, tapi hati gue hangat. Satu lagi UMKM terselamatkan dari dinginnya teknologi yang hambar.

- End Of Chapter 05 -

Tags: baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 05 : Antara Prompt dan Perasaan bahasa Indonesia, komik Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 05 : Antara Prompt dan Perasaan bahasa komik Indonesia, baca Seniman Digital Gang Sempit Chapter 05 : Antara Prompt dan Perasaan online, Seniman Digital Gang Sempit Chapter 05 : Antara Prompt dan Perasaan baru komiku, Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 05 : Antara Prompt dan Perasaan chapter, high quality sub indo, Seniman Digital Gang Sempit manga scan terbaru, manhwa web, , DesainerHub

Rekomendasi