Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Seniman Digital Gang Sempit Chapter 07 : Reuni Dari Masa Lalu

Baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 07 : Reuni Dari Masa Lalu bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Seniman Digital Gang Sempit bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

Seniman Digital Gang Sempit

Chapter 07 - Reuni Dari Masa Lalu

15:30

Warkop Bang Jali sore itu kedatangan tamu yang tidak biasa. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti di pinggir jalan yang becek, kontras dengan deretan motor bebek yang parkir semrawut. Dari dalamnya keluar seorang pria berkemeja rapi yang langsung mengenali gue.


"Emrive? Masih betah di sini?"

Itu Baskoro, mantan bos gue di agensi besar dulu. Pria yang paling rajin mengadakan meeting tiga kali seminggu hanya untuk membahas hal-hal yang sebenarnya bisa selesai lewat pesan singkat.

. . .
"Pak Bas,"

gue menyalaminya, lalu mempersilakannya duduk di kursi kayu warkop yang sedikit goyang.

Ada angin apa sampai nyasar ke markas D-Hub?"

Baskoro melihat sekeliling dengan tatapan merendahkan, lalu kembali menatap gue.

"Gue butuh lo, Riv. Agensi lagi kewalahan. Kita dapet kontrak buat branding pariwisata nasional, tapi semua tim gue terjebak dalam 'lubang' AI. Mereka kirim ratusan konsep ke klien, tapi semuanya ditolak. Klien bilang hasilnya 'terlalu robot', nggak ada sentuhan Indonesianya."

Gue tersenyum tipis.

"Bukannya dulu Bapak bilang desainer itu harus kayak mesin? Cepat dan patuh?"

Baskoro menghela napas, terlihat frustrasi.

"Gue salah, oke? AI bisa bikin gambar Borobudur atau Komodo yang sempurna, tapi klien mau sesuatu yang bikin orang 'merinding' pas liat. Sesuatu yang punya jiwa. Gue bayar lo tiga kali lipat dari gaji lo dulu kalau lo mau bantu proyek ini selama dua minggu."

Gue terdiam. Angka itu sangat besar. Bisa buat renovasi rumah orang tua gue atau beli laptop spek dewa tanpa harus dengar suara kipasnya yang kayak mesin traktor.

. . .

Gue membuka laptop gue. Gue nggak pakai AI untuk pamer. Gue buka Photoshop dan menunjukkan proyek es potong Pak Rohman dan kerak telor Pak Haji.


"Pak Bas, lihat ini. Ini bukan cuma gambar. Ini hasil gue duduk berjam-jam dengerin cerita mereka. AI Bapak nggak bisa ngelakuin itu karena AI nggak punya telinga buat dengerin keluhan rakyat, dan nggak punya hati buat ngerasain harapan mereka,"

ujar gue tegas.


"Makanya gue butuh lo, Riv! Pakai cara lo itu!"

seru Baskoro.


"Maaf, Pak. Saya mau bantu, tapi bukan sebagai 'buruh' agensi Bapak lagi,"

jawab gue.

"Kalau Bapak mau, D-Hub bisa jadi konsultan. Tapi saya nggak akan kerja di kantor Bapak. Saya kerja di sini, di antara orang-orang yang jadi inspirasi saya."

Baskoro akhirnya setuju karena terdesak. Gue langsung bekerja. Untuk proyek pariwisata ini, gue menggunakan AI sebagai asisten teknis untuk memproses pemetaan warna dari berbagai kain tenun di pelosok negeri. Tapi untuk urusan karakter, gue pake Adobe Illustrator.

. . .

Gue menggambar ilustrasi figur manusia dengan garis yang tidak sempurna—sedikit kasar, meniru guratan pahatan kayu tradisional. Gue menghabiskan waktu semalam suntuk di Photoshop untuk memberikan efek tekstur tanah dan batu asli, bukan tekstur digital yang licin dan palsu.


Gue memasukkan elemen "moral" di dalamnya. Gue selipkan detail-detail kecil yang menghargai pengrajin lokal, bukan cuma objek wisata komersialnya.


Dua hari kemudian, gue kirim hasilnya. Baskoro menelepon dengan suara gemetar.

"Klien langsung setuju, Riv. Mereka bilang, baru kali ini mereka liat desain yang bisa 'bicara'."

Gue menutup telepon itu. Baskoro mengirimkan pembayaran termin pertama yang jumlahnya cukup buat gue traktir orang sewarkop makan enak selama seminggu.

. . .
"Riv, lo nggak balik ke kantor lama lo?"

tanya Andre yang dari tadi menguping.


Gue menggeleng sambil menyeruput kopi hitam Bang Jali.

"Ngapain, Dre? Di sana gue cuma jadi bagian dari algoritma. Di sini, gue jadi manusia."

Malam itu, gue pulang dengan motor matic gue. Jakarta terasa lebih bersahabat. Gue sadar, teknologi setinggi apa pun akan selalu butuh "jiwa" untuk bisa diterima oleh hati manusia. Dan jiwa itu... nggak dijual di toko aplikasi manapun.


End Of Chapter 07

Tags: baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 07 : Reuni Dari Masa Lalu bahasa Indonesia, komik Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 07 : Reuni Dari Masa Lalu bahasa komik Indonesia, baca Seniman Digital Gang Sempit Chapter 07 : Reuni Dari Masa Lalu online, Seniman Digital Gang Sempit Chapter 07 : Reuni Dari Masa Lalu baru komiku, Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 07 : Reuni Dari Masa Lalu chapter, high quality sub indo, Seniman Digital Gang Sempit manga scan terbaru, manhwa web, , DesainerHub

Rekomendasi