Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Seniman Digital Gang Sempit Chapter 10 : Arsitek di Balik Layar

Baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 10 : Arsitek di Balik Layar bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Seniman Digital Gang Sempit bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

Seniman Digital Gang Sempit

Chapter 10 - Arsitek di Balik Layar

16:30
"Riv, lo beneran bisa bikin sistem yang nggak bikin pusing?"

Pertanyaan itu datang dari Bang Somad, koordinator keamanan pasar kaget mingguan di wilayah kami. Masalahnya klasik tapi pelik: pendataan iuran lapak yang amburadul, catatan yang sering hilang karena kena tumpahan kopi, dan miskomunikasi yang ujung-ujungnya bikin para pedagang kecil sering bersitegang.


Gue menutup jendela CorelDraw yang sedang menampilkan draf spanduk, lalu membuka editor kode Visual Studio Code

"Bang, desain itu bukan cuma soal gambar yang enak dilihat. Struktur cara kerja juga itu bagian dari desain. Namanya System Design."

Bang Somad cuma melongo.

"Gue nggak butuh istilah keren, Riv. Gue cuma butuh biar nggak ada pedagang yang teriak karena ngerasa udah bayar tapi dicatat belum."

Malam itu, di pojokan warkop Bang Jali, gue kembali ke akar gue. Ilmu yang gue pelajari secara otodidak dan kursus online sepuluh tahun lalu—bahasa pemrograman dan struktur basis data—sekarang menjadi senjata utama.


Gue nggak mau bikin aplikasi berat yang harus diinstal dari Playstore. Pedagang pasar nggak punya waktu buat download aplikasi 100MB. Gue memutuskan membangun Web App yang sangat ringan berbasis progresif.


"Masih asyik ngetik 'cacing' gitu, Riv?"

Andre lewat sambil menunjuk barisan kode Javascript di layar gue.

"Sekarang udah ada AI yang bisa bikin aplikasi lewat satu kalimat perintah. Ngapain lo masih pusing mikirin logika database?"

Gue berhenti mengetik sejenak, membiarkan kipas laptop gue menderu membuang panas.

"AI emang bisa bikin kodenya, Dre. Tapi AI nggak tahu gimana emosinya Bang Somad kalau HP-nya lemot pas lagi di tengah pasar yang panas. Dia nggak tahu kalau pedagang di sana banyak yang pakai HP lama dengan sinyal yang timbul tenggelam. Gue nulis kode ini satu-satu biar script-nya bersih, jalan lancar di HP spek rendah, dan bisa diakses offline."

Gue masuk ke tahap Branding. Gue bikin identitas sistem ini dengan nama sederhana: "LapakRapi".

Di Photoshop, gue nggak bikin logo yang ribet. Gue bikin ikon yang sangat kontras dan tombol-tombol berukuran besar. Gue tahu audiens gue adalah bapak-bapak yang jempolnya kasar dan penglihatannya mungkin sudah agak berkurang. Ini bukan soal estetika "estetik" ala anak Jaksel, ini soal Accessibility.


"Ini, Bang,"

kata gue dua hari kemudian di tengah riuh pasar.


Gue tunjukkan layar HP gue ke Bang Somad. Hanya ada tiga tombol besar: Input Pembayaran, Cek Detail Lapak, dan Status Iuran.

Jika pembaca ingin mencoba prototipe versi Lite Web-App Lapak Rapi, kunjungi/buka di Browser Web:
https://bit.ly/lapakrapi

Lalu Scan QR atau Screenshoot dan unggah QR dibawah ini ke Web-App LapakRapi pada menu Input Pembayaran


"Setiap pedagang punya QR Code kecil di meja mereka. Abang tinggal scan, pilih jenis iurannya, klik bayar. Data langsung masuk ke HP Abang dan mereka dapet struk digital lewat WhatsApp,"

jelas gue.


Bang Somad mencoba melakukan scanning ke salah satu lapak gorengan. Bip! Nama pedagang muncul, status pembayaran terlihat hijau.


"Gila... cuma segini doang? Nggak pake nulis di buku lagi?"

Bang Somad tampak takjub.


"Sistemnya emang sederhana di depan, Bang. Tapi di belakangnya, kodenya saya susun biar seaman bank,"

jawab gue bangga.


Seminggu berjalan, suasana pasar jadi lebih tenang. Tidak ada lagi teriak-teriak soal catatan hilang. Bang Somad bahkan bisa menunjukkan laporan keuangan mingguan ke pengurus warga hanya dengan satu kali klik ekspor ke PDF.


Gue duduk di warkop, melihat Bang Somad yang sekarang lebih banyak senyum daripada marah-marah. Di depan gue, laptop tua ini masih setia menemani. Sertifikat-sertifikat kursus online yang gue dapatkan dulu bukan sekadar pajangan di LinkedIn; mereka adalah fondasi yang membuat gue bisa membantu orang di sekitar gue tetap bertahan di era digital yang semakin kencang ini.


"Riv,"

Andre duduk di samping gue, suaranya agak pelan.

"Ajarin gue dong... gimana caranya bikin sistem yang 'pas' kayak gitu. Gue baru sadar, aplikasi bikinan AI gue kemarin dikomplain klien karena nggak bisa dibuka di daerah yang sinyalnya susah."

Gue tersenyum, menyodorkan segelas kopi hitam Bang Jali yang mulai dingin.

"Sini duduk. Kita nggak belajar cara pakai alatnya dulu, tapi kita belajar cara ngertiin orangnya dulu."

D-Hub malam ini secara resmi bukan lagi cuma soal visual. Kami adalah solusi. Dan bagi gue, melihat pasar kaget yang lebih teratur adalah kepuasan yang nggak bisa dibayar pakai mata uang kripto manapun.


-End Of Chapter 10-

Tags: baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 10 : Arsitek di Balik Layar bahasa Indonesia, komik Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 10 : Arsitek di Balik Layar bahasa komik Indonesia, baca Seniman Digital Gang Sempit Chapter 10 : Arsitek di Balik Layar online, Seniman Digital Gang Sempit Chapter 10 : Arsitek di Balik Layar baru komiku, Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 10 : Arsitek di Balik Layar chapter, high quality sub indo, Seniman Digital Gang Sempit manga scan terbaru, manhwa web, , DesainerHub

Rekomendasi