Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Seniman Digital Gang Sempit Chapter 12 : Koperasi Digital dan Kekuatan Komunitas

Baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 12 : Koperasi Digital dan Kekuatan Komunitas bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Seniman Digital Gang Sempit bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

Seniman Digital Gang Sempit

Chapter 12 - Koperasi Digital dan Kekuatan Komunitas

08:15

Pagi itu, warkop Bang Jali tidak seperti biasanya. Di atas meja panjang, bukan hanya ada gelas kopi dan piring gorengan, tapi ada tumpukan brosur, contoh kemasan, dan laptop "perang" gue yang terbuka lebar.


"Riv, beneran ini semua bisa dijadiin satu?"

tanya Bang Jali ragu, sambil menunjuk layar laptop gue.


"Bisa, Bang. Masalah kita selama ini adalah kita jalan sendiri-sendiri. Pak Haji dengan kerak telornya, Pak Rohman dengan es potongnya, dan Bang Jali dengan warkopnya. Kalau kita gabung dalam satu ekosistem, kita bisa lawan dominasi aplikasi besar yang potongannya mencekik itu,"

jawab gue mantap.


. . .

Hari ini, gue meresmikan proyek paling ambisius D-Hub: "WargaBerdaya". Sebuah platform koperasi digital lokal.


Gue nggak mulai dari aplikasi. Gue mulai dari Branding.

Gue duduk berjam-jam di CorelDraw, menciptakan identitas visual yang menyatukan mereka. Gue nggak mau logo yang terlalu korporat. Gue bikin logo berbentuk anyaman bambu yang saling mengunci, tapi garis-garisnya membentuk inisial 'W' dan 'B'. Warnanya gue ambil dari warna-warna pasar tradisional: hijau daun pisang, kuning kunyit, dan cokelat tanah.


. . .
"Ini bukan cuma logo, Bapak-Bapak,"

kata gue saat mempresentasikan desain itu di depan warga.

"Ini simbol kalau kita ini satu ikatan. Setiap anggota punya QR Code khusus di gerobaknya yang kalau di-scan, orang bisa lihat profil lengkap dagangan kalian, sejarahnya, sampai testimoni tetangga sendiri."

Lalu, gue masuk ke bagian yang paling menguras otak: Sistem Integrasi.


Gue nggak pakai platform e-commerce siap pakai. Gue membangun sistem manajemen inventaris sederhana yang gue tulis kodenya sendiri agar bisa berjalan di balik website yang gue buat minggu lalu.

Gue integrasikan sistem poin "Loyalitas Tetangga". Setiap kali warga belanja di sesama anggota koperasi, mereka dapet poin yang bisa dituker sama kopi gratis di Bang Jali atau diskon di lapak Pak Haji.


. . .
"Masih pake cara manual nulis kodenya, Riv?"

Andre lagi-lagi muncul, kali ini dia terlihat agak penasaran.

"Kenapa nggak pake AI buat bikin sistem poinnya? Kan ada *plugin* instan."

"Plugin instan itu sering ada biaya langganannya, Dre. Koperasi kita ini modalnya gotong royong, gue nggak mau mereka terbebani biaya bulanan cuma buat sistem digital. Gue bikin ini 'open source' buat warga kita sendiri. Ringan, tanpa biaya tambahan, dan data pelanggan kita nggak dijual ke pihak ketiga,"

jelas gue sambil merapikan barisan kode JavaScript di layar.


. . .

Di Photoshop, gue bikin materi promosi digital untuk media sosial. Gue bikin template yang seragam buat semua pedagang. Foto produknya gue edit satu-satu biar kelihatan menggiurkan tapi tetap jujur—nggak pakai trik kamera yang berlebihan.


"Hasilnya gimana, Riv?"

tanya Reno yang sekarang sudah mulai jago narik garis di Corel.


"Lihat tuh,"

gue menunjuk ke luar warkop.


Seorang kurir sepeda—anak muda pengangguran di kampung kami yang sekarang punya kerjaan jadi pengantar tetap koperasi—sedang memuat pesanan. Ada kerak telor, es potong, dan bungkusan nasi uduk dalam satu tas yang sudah gue desain logo "WargaBerdaya"-nya dengan teknik sablon manual.


"Warga nggak perlu buka lima aplikasi berbeda. Cukup satu web, semua kebutuhan dapur terpenuhi dari tetangga sendiri,"

kata gue puas.


. . .
20:10

Malam harinya, gue duduk santai sambil melihat dasbor transaksi. Angkanya memang belum miliaran, tapi grafiknya naik stabil. Yang paling penting, margin keuntungannya 100% masuk ke kantong para pedagang, bukan dipotong komisi perusahaan raksasa di gedung kaca sana.


"Riv,"

Bang Jali menyodorkan kopi.

"Gue baru sadar. Desain itu bukan cuma soal gambar bagus di kertas ya? Tapi soal gimana cara hidup kita jadi lebih bagus."

Gue tersenyum, menyesap kopi itu.

"Itu inti dari D-Hub, Bang. Kita nggak cuma desain gambar. Kita desain masa depan."

Jakarta malam itu terasa lebih hangat. Koperasi digital kami mungkin kecil, tapi dia punya sesuatu yang nggak dimiliki algoritma paling canggih sekalipun: solidaritas. Dan bagi Maksum Rifai, itu adalah karya desain terbaik yang pernah ia ciptakan.

-End Of Chapter 12-

Tags: baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 12 : Koperasi Digital dan Kekuatan Komunitas bahasa Indonesia, komik Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 12 : Koperasi Digital dan Kekuatan Komunitas bahasa komik Indonesia, baca Seniman Digital Gang Sempit Chapter 12 : Koperasi Digital dan Kekuatan Komunitas online, Seniman Digital Gang Sempit Chapter 12 : Koperasi Digital dan Kekuatan Komunitas baru komiku, Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 12 : Koperasi Digital dan Kekuatan Komunitas chapter, high quality sub indo, Seniman Digital Gang Sempit manga scan terbaru, manhwa web, , DesainerHub

Rekomendasi