Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 21 : Kota Yang Terlupakan

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 21 : Kota Yang Terlupakan bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas 2 bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 21 — Kota yang Terlupakan

00:15 WIB

Nara menghilang.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Tidak ada jejak langkah.

Seolah ia tidak pernah berada di sana.

Padahal beberapa detik sebelumnya...

ia masih berdiri di samping Raka.

. . .

"NARA!"

Suara Raka menggema di seluruh stasiun.

Namun yang menjawab hanyalah gema kosong.

...ra...
...ra...
...ra...

Jantungnya berdegup keras.

Mira berada di depan matanya.

Nara baru saja menghilang.

Dan makhluk yang menyebut dirinya Stasiun masih menunggu jawaban.

. . .

Jam raksasa di dada makhluk itu berdetak.

TOK.
TOK.
TOK.

Setiap detakan membuat udara semakin berat.

"Pilih."
"Kau tidak bisa membawa semuanya pulang."
. . .

Raka mengepalkan tangan.

Ia membenci pilihan itu.

Membenci kenyataan bahwa seseorang harus dikorbankan.

Namun sebelum ia menjawab...

sebuah suara terdengar dari belakang.

"Jangan pilih apa pun."

Suara itu lemah.

Namun sangat dikenalnya.

Pria tua yang menyerupai dirinya.

. . .

Tubuh pria itu kini hampir transparan.

Kabut mulai menembus tubuhnya.

Waktunya hampir habis.

"Ada cara lain."

bisiknya.

"Selama seratus tahun..."
"...tak ada yang pernah mencobanya."

Mata Stasiun langsung tertuju kepadanya.

Untuk pertama kalinya...

entitas itu tampak marah.

. . .

Seluruh peron bergetar.

DUUUUMMM—

Rel-rel mulai melengkung.

Lampu-lampu pecah.

Kabut hitam memenuhi langit.

"Kau tidak seharusnya ada di sini."

ucap Stasiun.

Kepada pria tua itu.

Bukan kepada Raka.

. . .

Pria tua itu tertawa pelan.

"Aku tahu."
"Aku adalah kesalahan yang tidak pernah berhasil kau hapus."

Lalu ia menoleh ke arah Raka.

"Dengarkan baik-baik."
"Nara belum hilang."
"Dia dibawa ke Kota."
. . .

"Kota?"

ulang Raka.

Pria itu mengangguk.

"Kota yang tidak pernah tercatat."
"Kota tempat semua orang yang dilupakan tinggal."
"Kota yang berada di balik seluruh rel."
. . .

Mendadak tanah di bawah mereka retak.

KRAAAKKK—

Retakan itu memanjang hingga ke ujung stasiun.

Dan dari dalamnya...

terlihat cahaya.

Bukan cahaya putih.

Melainkan cahaya kuning hangat.

Seperti lampu kota pada malam hari.

. . .

Raka mendekat.

Dan napasnya langsung tertahan.

Karena jauh di bawah sana...

terdapat sebuah kota.

Sangat besar.

Jauh lebih besar dari Jakarta.

Membentang tanpa ujung.

Penuh rumah.

Penuh jalan.

Penuh lampu.

Penuh manusia.

Namun tidak ada satu pun peta yang pernah mencatat keberadaannya.

. . .

"Kota Orang Hilang."

bisik pria tua itu.

"Tempat tujuan akhir seluruh penumpang."

. . .

Raka melihat ribuan orang berjalan di jalanan kota itu.

Sebagian memakai pakaian modern.

Sebagian memakai pakaian puluhan tahun lalu.

Sebagian bahkan memakai pakaian dari era kolonial.

Semuanya hidup berdampingan.

Seolah waktu tidak berlaku di sana.

. . .

Lalu...

ia melihat seseorang.

Di sebuah halte kecil.

Berdiri sendirian.

Membawa lentera biru.

Nara.

. . .

"NARA!"

teriaknya.

Namun Nara tidak mendengar.

Jarak mereka terlalu jauh.

Terpisah oleh dua dunia.

. . .

Pria tua itu tersenyum tipis.

"Sekarang kau tahu ke mana harus pergi."

Tubuhnya mulai pecah menjadi partikel cahaya.

Sedikit demi sedikit.

Hilang tertiup angin.

. . .

Raka panik.

"Tunggu!"
"Siapa sebenarnya kau?"

Pria itu diam beberapa saat.

Lalu menjawab:

"Aku adalah dirimu..."
"...yang gagal menyelamatkan siapa pun."
. . .

Dan untuk pertama kalinya...

ia tersenyum.

Bukan senyum putus asa.

Bukan senyum sedih.

Melainkan senyum lega.

"Jangan ulangi kesalahanku."
. . .

Tubuhnya menghilang seluruhnya.

FWOOOSHH—

Menyisakan sebuah benda yang jatuh ke tangan Raka.

Sebuah tiket tua.

Lusuh.

Sobek di beberapa bagian.

Namun masih bisa dibaca.

TUJUAN: KOTA ORANG HILANG
PERON: 13
KEBERANGKATAN: 00:16
. . .

Jam raksasa di dada Stasiun kembali berdetak.

TOK.

Dan angka di atasnya berubah.

Perlahan.

Tak terhindarkan.

Dari:

00:15

Menjadi:

00:16
. . .

Seluruh kota di bawah stasiun menyala bersamaan.

Jutaan lampu.

Jutaan jendela.

Jutaan kehidupan yang terlupakan.

Menunggu seseorang datang.

Menunggu seseorang mengubah takdir mereka.

Dan untuk pertama kalinya...

Raka tahu ke mana langkah berikutnya harus menuju.

Bukan ke kereta.

Bukan ke Mira.

Bukan ke Stasiun.

Melainkan ke kota yang tidak pernah ada.

— END OF CHAPTER 21 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 21 : Kota Yang Terlupakan bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 21 : Kota Yang Terlupakan bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 21 : Kota Yang Terlupakan online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 21 : Kota Yang Terlupakan baru komiku, Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 21 : Kota Yang Terlupakan chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas 2 manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi