Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 23 : Penjaga Menara

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 23 : Penjaga Menara bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas 2 bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 23 — Penjaga Menara

00:16 WIB

Raka turun dari kereta.

Dan untuk pertama kalinya...

ia benar-benar menginjakkan kaki di Kota Orang Hilang.

. . .

Udara di kota itu berbeda.

Tidak dingin.

Tidak hangat.

Seolah suhu di tempat itu menolak berubah.

Seperti waktu yang berhenti.

. . .

Jalanan dipenuhi manusia.

Mereka berjalan.

Berbelanja.

Mengobrol.

Bekerja.

Hidup seperti kota biasa.

Namun tidak seorang pun tampak terburu-buru.

Tidak ada yang melihat jam.

Tidak ada yang menunggu besok.

Karena di sini...

besok tidak pernah datang.

. . .

Raka berjalan melewati sebuah warung.

Radio tua di dalamnya memutar lagu dari tahun 1980-an.

Di seberang jalan, sebuah bioskop menampilkan poster film yang sudah puluhan tahun tidak tayang.

Di halte bus, seorang pria berpakaian era kolonial duduk berdampingan dengan mahasiswa modern.

Tak seorang pun merasa aneh.

. . .

Semua orang di sini berasal dari waktu berbeda.

Namun kini mereka hidup di waktu yang sama.

. . .

Raka berhenti.

Di depan sebuah papan informasi kota.

Peta besar tergantung di sana.

Di bagian tengah peta...

terdapat simbol menara jam raksasa.

Bangunan yang sama seperti gambar Mira.

. . .

MENARA PENJAGA

tertulis di bawah simbol tersebut.

. . .

Tiba-tiba suara seseorang terdengar.

"Kamu pendatang baru."

Raka menoleh.

Seorang anak laki-laki berdiri di belakangnya.

Usianya sekitar dua belas tahun.

Mengenakan seragam sekolah dasar yang sudah kusam.

Di dadanya masih terpasang nama:

ADI.

. . .

Anak itu tersenyum.

"Aku sudah tahu dari jauh."
"Pendatang baru selalu terlihat bingung."

Raka mengamati wajahnya.

Anak itu tampak normal.

Terlalu normal.

Dan justru itu yang membuatnya terasa aneh.

. . .

"Kamu tinggal di sini?"

tanya Raka.

Adi mengangguk.

"Sudah lama."
"Mungkin tiga puluh tahun."
. . .

Raka terdiam.

Anak itu tetap berusia dua belas tahun.

Namun sudah tinggal tiga puluh tahun.

. . .

Adi menunjuk menara jam di kejauhan.

"Kamu mencari seseorang?"

Raka mengangguk.

"Nara."
"Dan Mira."

Senyum Adi langsung menghilang.

. . .

"Itu nama yang buruk untuk disebut."

katanya pelan.

Raka langsung waspada.

"Kenapa?"
. . .

Adi tidak menjawab.

Ia hanya menunjuk ke atas.

Ke arah menara jam.

"Karena Penjaga sedang mencarinya."
. . .

Angin tiba-tiba berhenti.

Suara kota menghilang.

Seolah seluruh dunia menahan napas.

. . .

Lalu lonceng menara berbunyi.

DOOOOONNNGGGG—

Satu kali.

Namun suara itu mengguncang seluruh kota.

. . .

Semua orang langsung berhenti bergerak.

Pedagang.

Penumpang.

Anak-anak.

Semua menoleh ke arah menara.

. . .

Dan sesuatu muncul.

Dari puncak menara.

. . .

Sosok manusia.

Tinggi.

Berjubah hitam.

Wajahnya tertutup topeng jam retak.

Jarum jam pada topeng itu bergerak sendiri.

Berputar perlahan.

Tidak mengikuti waktu apa pun.

. . .

Seluruh kota menundukkan kepala.

Termasuk Adi.

Termasuk semua orang.

Kecuali Raka.

. . .

Sosok itu memandang kota dari atas menara.

Lalu berbicara.

Suaranya terdengar dari segala arah.

"Seorang pendatang telah memasuki kota."
. . .

Raka merasakan bulu kuduknya berdiri.

Karena ia tahu.

Yang dimaksud adalah dirinya.

. . .
"Dia membawa tiket Penjaga."
"Dia membawa kenangan yang tidak seharusnya ada."
"Dan dia membawa harapan."
. . .

Kalimat terakhir itu terdengar seperti penghinaan.

Bukan pujian.

. . .
"Temukan dia."
"Sebelum jam bergerak lagi."
. . .

Lonceng berbunyi kedua kalinya.

DOOOOOONNNGGGG—

Dan seluruh kota hidup kembali.

Namun kini berbeda.

Semua mata memandang Raka.

Semua orang.

Serentak.

. . .

Adi menggenggam tangan Raka.

"Lari."

bisiknya.

"Sekarang."
. . .

Karena di ujung jalan...

Raka melihat puluhan sosok berjubah hitam mulai muncul dari kabut.

Masing-masing mengenakan topeng jam.

Dan semuanya bergerak ke arahnya.

. . .

Di saat yang sama...

jauh di atas menara.

Seseorang sedang mengawasinya dari balik jendela.

Membawa lentera biru.

Dan untuk sepersekian detik...

Raka yakin itu adalah Nara.

— END OF CHAPTER 23 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 23 : Penjaga Menara bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 23 : Penjaga Menara bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 23 : Penjaga Menara online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 23 : Penjaga Menara baru komiku, Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 23 : Penjaga Menara chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas 2 manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi