Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 26 : Lentera yang Memanggil Nama

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 26 : Lentera yang Memanggil Nama bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas 2 bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 26 — Lentera yang Memanggil Nama

00:17 WIB

Lentera biru itu masih menyala.

Sendirian.

Di tengah jalan yang basah oleh hujan.

Sementara kereta hitam bernomor 13 telah menghilang.

Begitu pula perempuan bertudung yang membawanya.

. . .

Tidak ada jejak.

Tidak ada suara roda.

Tidak ada rel.

Seolah semua itu tidak pernah terjadi.

Namun lentera itu tetap ada.

Menyala dengan cahaya biru lembut.

. . .

Raka melangkah mendekat.

Penjaga Pemburu tidak berusaha menghentikannya.

Justru mundur satu langkah.

Seakan benda itu jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat.

"Jangan sentuh itu."

katanya.

. . .

Untuk pertama kalinya sejak bertemu sosok itu...

Raka mendengar ketakutan dalam suaranya.

. . .

"Kenapa?"

tanya Raka.

Penjaga Pemburu tidak menjawab.

Namun matanya terus menatap lentera tersebut.

Dengan kebencian.

Dan rasa takut.

. . .

Itu sudah cukup menjadi alasan.

Raka mengambil lentera itu.

FWOOOSHH—
. . .

Dunia langsung berubah.

Seluruh suara menghilang.

Seluruh cahaya memudar.

Seluruh kota membeku.

. . .

Dan seseorang memanggil namanya.

"Raka..."
. . .

Suara itu pelan.

Jauh.

Namun sangat dikenalnya.

. . .

"Nara?"

bisiknya.

. . .

Kabut biru mulai muncul di sekelilingnya.

Perlahan.

Menutupi seluruh kota.

Menutupi jalan.

Menutupi menara.

Menutupi langit.

. . .

Lalu sebuah bayangan muncul.

Di tengah kabut.

Sosok perempuan.

Rambut panjang.

Membawa termos kopi tua.

. . .

Nara.

. . .

Namun ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Karena Nara berdiri membelakanginya.

Dan tidak bergerak sama sekali.

. . .

"Nara!"

teriak Raka.

Ia berlari.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

. . .

Namun jarak di antara mereka tidak berubah.

Satu meter.

Sepuluh meter.

Seratus meter.

Tetap sama.

. . .

Seolah Nara berada di tempat yang tidak bisa dicapai.

. . .

Lalu perlahan...

Nara menoleh.

. . .

Dan Raka membeku.

Karena wajah itu memang Nara.

Namun matanya bukan milik Nara.

Mata itu berwarna biru terang.

Persis seperti cahaya lentera.

. . .

"Nara..."

ulang Raka.

"Aku menemukamu."
. . .

Nara tersenyum.

Senyum yang sama seperti biasanya.

Hangat.

Tenang.

Membuat orang merasa aman.

. . .

Namun kalimat yang keluar dari mulutnya membuat darah Raka membeku.

"Kamu tidak boleh datang ke sini."
"Karena aku bukan orang yang harus kamu selamatkan."
. . .

Kabut langsung berputar liar.

Seperti badai.

Cahaya lentera membesar.

Semakin terang.

Semakin menyilaukan.

. . .

Lalu muncul sesuatu di belakang Nara.

Siluet raksasa.

Jauh lebih besar daripada Menara Penjaga.

Jauh lebih besar daripada Stasiun.

. . .

Makhluk itu tidak memiliki wajah.

Tidak memiliki mata.

Tidak memiliki tubuh yang jelas.

Hanya tersusun dari jutaan cahaya biru.

. . .

Dan seluruh cahaya itu terhubung dengan lentera yang sedang dipegang Raka.

. . .

"Nara..."

bisik Raka.

"Makhluk apa itu?"

. . .

Nara menatapnya lama.

Lalu menjawab.

"Itulah alasan kenapa aku tidak memiliki bayangan."
. . .

Jantung Raka berhenti berdetak sesaat.

Karena ia langsung teringat gambar Mira.

Gambar yang menunjukkan Nara tanpa bayangan.

. . .

Dan sebelum ia sempat bertanya lebih jauh...

kabut biru runtuh.

KRAAAAAKKK—
. . .

Dunia kembali normal.

Kota kembali muncul.

Hujan kembali turun.

Suara kembali terdengar.

. . .

Namun sesuatu telah berubah.

Karena seluruh Pemburu Waktu kini berlutut.

Termasuk Penjaga Pemburu.

Menghadap ke arah Raka.

Menghadap ke arah lentera yang sedang ia pegang.

. . .

Dan jauh di puncak Menara Penjaga...

sebuah jam raksasa mulai bergerak untuk pertama kalinya.

TOK.
. . .

Jarumnya berpindah satu langkah.

Menuju angka yang selama ini tidak pernah berubah.

— END OF CHAPTER 26 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 26 : Lentera yang Memanggil Nama bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 26 : Lentera yang Memanggil Nama bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 26 : Lentera yang Memanggil Nama online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 26 : Lentera yang Memanggil Nama baru komiku, Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 26 : Lentera yang Memanggil Nama chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas 2 manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi