Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 40 : Akhir yang Pertama

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 40 : Akhir yang Pertama bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas 2 bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 40 — Akhir yang Pertama

00:31 WIB

Untuk pertama kalinya...

Nara terlihat takut.

. . .

Bukan takut pada kereta raksasa yang muncul dari retakan langit.

Bukan takut pada ribuan wajah yang memenuhi badan lokomotif hitam itu.

Bukan takut pada Penumpang Pertama.

. . .

Melainkan takut pada sesuatu yang akan segera terjadi.

Sesuatu yang sudah ia lihat berkali-kali.

Dan gagal ia cegah.

. . .

Kereta hitam perlahan bergerak di atas rel-rel langit.

Tidak menyentuh tanah.

Tidak membutuhkan jalur.

Namun seluruh dunia bergetar setiap kali rodanya berputar.

. . .
DUUMM...
DUUMM...
DUUMM...
. . .

Rel-rel kemungkinan mulai patah.

Satu demi satu.

Jutaan jalur kehidupan mulai runtuh seperti benang yang dipotong.

. . .

Di kejauhan...

Raka melihat dunia-dunia lain menghilang.

Seperti lampu yang dipadamkan.

. . .

Satu dunia.

Dua dunia.

Sepuluh dunia.

Ribuan dunia.

. . .

Dan setiap dunia yang lenyap...

menjadi bagian dari kereta hitam tersebut.

. . .

"Itu yang terjadi jika dia menang."

kata Nara.

. . .

"Semua kemungkinan disatukan."

"Tidak ada pilihan."

"Tidak ada masa depan."

"Hanya satu jalur."

. . .

Penumpang Pertama tersenyum.

Ribuan wajah di tubuhnya ikut tersenyum.

"Dan bukankah itu lebih baik?"
"Tidak ada lagi kehilangan."
"Tidak ada lagi penyesalan."
"Tidak ada lagi perpisahan."
. . .

Suara itu bergema di seluruh rel kemungkinan.

. . .

Raka membenci dirinya sendiri...

karena sebagian kecil dirinya setuju.

. . .

Jika semua kemungkinan menjadi satu...

Mira mungkin kembali.

Nara mungkin selamat.

Tidak ada seorang pun yang hilang.

. . .

Penumpang Pertama menatapnya.

Seolah mengetahui isi pikirannya.

"Aku bisa mengembalikan semuanya."
"Aku selalu bisa."
. . .

Lalu ia mengangkat tangannya.

. . .

Dan sesuatu muncul di depan Raka.

. . .

Sebuah dunia.

Dunia yang sangat dikenal.

. . .

Jakarta.

Hari biasa.

Langit cerah.

Tidak ada Stasiun Ketiga Belas.

. . .

Mira sedang tertawa.

Masih hidup.

Masih bersama keluarganya.

. . .

Nara sedang menjaga kedai kopi kecil dekat stasiun.

Tersenyum seperti dahulu.

. . .

Dan Raka...

tidak pernah memulai perjalanan ini.

. . .

Tidak ada rasa sakit.

Tidak ada kehilangan.

Tidak ada misteri.

. . .

Hanya kehidupan normal.

. . .

Air mata hampir jatuh dari mata Raka.

. . .
"Pilih saja."
"Aku akan memberikannya."
. . .

Nara langsung maju.

Wajahnya berubah pucat.

"Jangan lihat itu."
"Itu bukan masa depan."
"Itu umpan."
. . .

Namun terlambat.

Karena Raka sudah melihat sesuatu yang lain.

. . .

Di balik dunia sempurna itu...

ada bayangan.

Sangat samar.

Nyaris tidak terlihat.

. . .

Bayangan jutaan orang.

Terjebak.

Diam.

Tidak bergerak.

. . .

Seperti foto yang dibekukan selamanya.

. . .

Raka akhirnya mengerti.

. . .

Penumpang Pertama tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia ingin menghentikan dunia.

. . .

Tidak ada lagi kehilangan...

karena tidak ada lagi perubahan.

Tidak ada lagi pilihan.

Tidak ada lagi kehidupan.

. . .

Hanya keabadian yang membeku.

. . .

Dan saat itulah...

Kereta Pertama membunyikan peluitnya.

TUUUUUUUUUUUTTTTT—
. . .

Seluruh rel kemungkinan bergetar.

Seluruh versi Raka di dalam gerbong berdiri bersamaan.

Ratusan.

Ribuan.

Mungkin jutaan.

. . .

Lalu mereka berkata serempak:

"SEKARANG."
. . .

Dan untuk pertama kalinya...

kunci bernomor 13 di tangan Nara retak.

KRAKKK—
. . .

Wajah Nara langsung berubah.

Karena ia tahu arti retakan itu.

. . .

Sesuatu telah terbuka.

Sesuatu yang bahkan Peron Nol selama ini berusaha segel.

. . .

Dan dari kedalaman rel tak berujung...

terdengar suara langkah kaki.

Bukan satu.

Bukan puluhan.

. . .

Melainkan jutaan langkah.

. . .

Seseorang...

atau sesuatu...

sedang datang menuju Peron Nol.

— END OF CHAPTER 40 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 40 : Akhir yang Pertama bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 40 : Akhir yang Pertama bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 40 : Akhir yang Pertama online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 40 : Akhir yang Pertama baru komiku, Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 40 : Akhir yang Pertama chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas 2 manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi