Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Stasiun Ketiga Belas Chapter 42 : Penumpang Pertama

All chapters are in

Baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 42 : Penumpang Pertama bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Stasiun Ketiga Belas 2 bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

.

STASIUN KETIGA BELAS

Chapter 42 — Penumpang Pertama

00:33 WIB

Nama itu tidak mungkin ada.

. . .

Raka menatap tiket tua yang dipegang Harun.

Kertasnya sudah menguning.

Sudut-sudutnya nyaris hancur dimakan waktu.

Namun tulisan di tengahnya masih jelas.

PERJALANAN PERTAMA
1887
PENUMPANG: RAKA PRADIPTA
. . .

"Itu tidak mungkin."

bisik Raka.

"Aku bahkan belum lahir."

. . .

Harun tersenyum tipis.

Senyum seseorang yang sudah terlalu sering mendengar kalimat itu.

"Benar."
"Kau belum lahir."
"Tapi dia sudah."
. . .

Harun menunjuk ke arah Penumpang Pertama.

. . .

Seluruh rel kemungkinan mendadak sunyi.

Bahkan kereta raksasa di langit berhenti bergerak.

. . .

Untuk pertama kalinya...

Penumpang Pertama tampak terganggu.

. . .
"Jangan."

ucapnya.

"Harun."
. . .

Harun tidak menggubris.

Ia justru melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

. . .

Lentera biru di tangan jutaan petugas stasiun menyala bersamaan.

FWUUUMMM—
. . .

Langit berubah.

Kereta berubah.

Peron Nol berubah.

. . .

Sebuah kenangan raksasa terbuka di atas mereka.

Seperti layar yang membentang memenuhi alam semesta.

. . .

Dan Raka melihatnya.

. . .

Stasiun kecil.

Tahun 1887.

Hujan deras.

Rel-rel baru saja selesai dibangun.

. . .

Seorang pria muda berdiri sendirian di peron.

Membawa lentera.

Membawa tiket.

Membawa rasa kehilangan yang sangat dalam.

. . .

Dan wajah pria itu...

adalah wajah Raka.

. . .

Lebih tepatnya...

versi pertama dari dirinya.

. . .

"Siapa dia?"

tanya Raka.

. . .

Harun menjawab tanpa mengalihkan pandangan.

"Orang yang menemukan Peron Nol."
. . .

Jantung Raka berhenti berdetak sesaat.

. . .

"Orang yang menjadi Penumpang Pertama."

. . .

BUMMM.

. . .

Seluruh dunia seperti pecah.

Adi sampai terjatuh.

Kondektur Misterius memejamkan mata.

Sedangkan Nara hanya menundukkan kepala.

Seolah ia sudah mengetahui semuanya sejak lama.

. . .

Raka menatap langit.

Menatap sosok raksasa itu.

Menatap ribuan wajah yang membentuk tubuhnya.

. . .

Lalu perlahan...

ia mulai melihat kemiripannya.

. . .

Cara berdiri.

Cara menatap.

Cara berbicara.

. . .

Semuanya adalah dirinya.

Versi yang sangat tua.

Versi yang telah hidup terlalu lama.

. . .
"Tidak..."

bisik Raka.

"Itu bukan aku."
. . .

Penumpang Pertama tersenyum.

Namun kali ini senyum itu terlihat lelah.

Sangat lelah.

"Awalnya..."
"...aku juga mengatakan hal yang sama."
. . .

Kenangan di langit terus berjalan.

Pria muda tahun 1887 menaiki kereta yang tidak memiliki tujuan.

Kereta yang sama.

Kereta Pertama.

. . .

Ia mencari seseorang.

Seseorang yang hilang.

Seseorang yang tidak bisa ia lepaskan.

. . .

Dan semakin lama perjalanan berlangsung...

semakin banyak dunia yang ia kunjungi.

Semakin banyak kemungkinan yang ia lihat.

. . .

Sampai akhirnya...

ia menemukan Peron Nol.

. . .

Dan membuat pilihan yang salah.

. . .

Harun menatap Raka.

"Kisahmu."
"Kisahnya."
"Kisah semua Raka."
"Selalu dimulai dengan kehilangan."
. . .

Nara menunduk.

Matanya mulai berkaca-kaca.

. . .

Karena akhirnya...

rahasia terbesar Stasiun Ketiga Belas telah terungkap.

. . .

Penumpang Pertama bukan monster.

Bukan dewa.

Bukan makhluk dari luar dunia.

. . .

Ia adalah seorang manusia.

Yang terlalu lama mencari jalan pulang.

. . .

Dan sekarang...

ia sedang berusaha mengubah seluruh kenyataan agar tidak pernah kehilangan siapa pun lagi.

. . .

Namun tepat saat itu...

sesuatu berubah di wajah Harun.

Senyumnya menghilang.

. . .

Karena ia melihat sesuatu di balik tubuh Penumpang Pertama.

Sesuatu yang bahkan tidak seharusnya ada.

. . .

Dan untuk pertama kalinya...

Harun tampak ketakutan.

. . .

Sangat ketakutan.

"...dia sudah bangun."
— END OF CHAPTER 42 —

Tags: baca manga Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 42 : Penumpang Pertama bahasa Indonesia, komik Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 42 : Penumpang Pertama bahasa komik Indonesia, baca Stasiun Ketiga Belas Chapter 42 : Penumpang Pertama online, Stasiun Ketiga Belas Chapter 42 : Penumpang Pertama baru komiku, Stasiun Ketiga Belas 2 Stasiun Ketiga Belas Chapter 42 : Penumpang Pertama chapter, high quality sub indo, Stasiun Ketiga Belas 2 manga scan terbaru, manhwa web, , Maksum Rifai

Rekomendasi