Global Notification

Daftar Menjadi Penulis

- Seniman Digital Gang Sempit Chapter 13 : Ujian di Panggung Kaca

Baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 13 : Ujian di Panggung Kaca bahasa Indonesia terbaru di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Manga Seniman Digital Gang Sempit bahasa Indonesia selalu update di MaxWebtoons | MaxsumReevay. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga MaxWebtoons | MaxsumReevay ada di menu Daftar Manga.

Lapor Gambar Rusak / Tidak Sesuai / Tidak Terload Lapor [DISINI]

Seniman Digital Gang Sempit

Chapter 13 - Ujian di Panggung Kaca

08:15

Undangan itu datang dalam bentuk surel resmi dengan domain pemerintah kota. Isinya singkat namun berat: D-Hub diundang untuk mempresentasikan konsep "WargaBerdaya" di depan dewan kota dan para investor teknologi dalam acara Smart City Summit.

"Lo yakin mau datang pakai motor metik itu, Riv?"

Andre bertanya sambil merapikan jasnya. Dia juga diundang sebagai perwakilan agensi besarnya yang membawa proyek berbasis AI murni.


Gue melihat motor metik gue, lalu melihat tas punggung yang berisi laptop tua penuh stiker.

"Motor ini yang bawa gue ke gang-gang sempit Jakarta, Dre. Dia saksi sejarah setiap garis yang gue tarik."

Di dalam gedung megah di kawasan Thamrin, suasananya sangat kontras dengan Warkop Bang Jali. Bau parfum mahal dan udara AC yang menusuk tulang. Andre maju lebih dulu. Dia memukau penonton dengan presentasi yang penuh dengan grafik AI, proyeksi keuntungan jutaan dolar, dan janji efisiensi tanpa batas.


"Masa depan adalah otomatisasi,"

tutup Andre disambut tepuk tangan riuh.


Kini giliran gue.


Gue berdiri di podium. Di depan gue, deretan panelis berkacamata menatap gue dengan skeptis. Gue nggak membuka slide grafik yang rumit. Gue membuka Photoshop.


"Bapak dan Ibu, ini adalah foto tangan Pak Haji Solihin,"

kata gue sambil menampilkan foto close-up tangan yang legam terkena jelaga, hasil jepretan gue sendiri.

"Dan ini adalah struktur kode yang saya bangun di atasnya."

Gue beralih ke jendela kode di VScode. Gue menunjukkan bagaimana setiap baris program yang gue tulis secara manual bertujuan untuk melindungi tangan-tangan seperti ini agar tidak digilas oleh algoritma yang tidak punya hati.


"Proyek WargaBerdaya bukan tentang otomatisasi yang membuang manusia. Ini tentang Augmentasi— menggunakan teknologi untuk memperkuat martabat manusia,"

jelas gue tenang.


Seorang panelis, pria paruh baya dengan raut wajah kaku, menyela.

"Mas Emrive, semua yang Anda lakukan—menarik vektor satu-satu di Corel, menulis kode manual—itu membuang waktu. Kenapa tidak pakai sistem otomatis yang jauh lebih cepat? Dunia kan bergerak sangat kencang."

Gue tersenyum tipis. Gue membuka CorelDraw, menunjukkan logo anyaman "WargaBerdaya".


"Pak, kalau saya pakai sistem otomatis, saya mungkin bisa bikin seribu logo dalam semenit. Tapi sistem otomatis Bapak nggak akan pernah tahu kalau motif anyaman ini adalah simbol janji saya pada warga pasar untuk tidak meninggalkan mereka. Kecepatan tanpa ketulusan hanya akan menghasilkan sampah digital. Kami di D-Hub tidak mengejar kecepatan; kami mengejar ketepatan rasa."

Gue kemudian menunjukkan statistik real-time dari platform koperasi digital kami. Gue tunjukkan bagaimana tingkat pengembalian modal pedagang kecil naik 40% justru karena mereka punya identitas yang unik, bukan identitas yang dicetak massal oleh mesin.


Ruangan itu hening.


"Desain yang baik,"

lanjut gue,

"adalah desain yang bisa dirasakan manfaatnya sampai ke piring nasi orang-orang paling bawah. Bukan cuma desain yang terlihat cantik di layar presentasi Bapak-Bapak sekalian."

Saat gue turun dari podium, tidak ada tepuk tangan seramai Andre. Tapi pria kaku yang tadi menyela gue menghampiri di belakang panggung. Dia menyodorkan kartu nama.


"Nama saya Gunawan. Saya dari dewan penasihat ekonomi mikro. Saya bosan lihat grafik yang cuma janji-janji. Kapan saya bisa mampir ke warkop yang Anda ceritakan tadi? Saya ingin lihat bagaimana 'perasaan' bisa diubah jadi sistem ekonomi."

Gue menyalami tangannya.

"Kapan saja, Pak. Tapi kopinya pahit, nggak ada pemanis buatan kayak AI."

Gue keluar dari gedung kaca itu, melepas kemeja formal gue, dan menyisakan kaos oblong hitam kebanggaan gue. Gue naik ke atas motor metik, menyalakan mesin yang berisik, dan membelah kemacetan sore Jakarta.


Di spion, gue melihat gedung-gedung tinggi itu perlahan menjauh. Mereka punya teknologi, mereka punya uang, tapi mereka nggak punya cerita. D-Hub punya keduanya.


"Kita pulang, Bang Jali,"

gumam gue sambil menarik gas.

"Malam ini ada desain menu warteg yang harus diberesin. Dan itu... jauh lebih penting dari semua tepuk tangan di gedung tadi."

Riuh tepuk tangan dan kesunyian tadi seolah tidak bernilai sama sekali, mungkin karena malam ini, dia baru saja membungkam ego para pemilik gedung tinggi. Dan bagi Emrive, itu sudah lebih dari cukup.

-End of Chapter 13

Tags: baca manga Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 13 : Ujian di Panggung Kaca bahasa Indonesia, komik Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 13 : Ujian di Panggung Kaca bahasa komik Indonesia, baca Seniman Digital Gang Sempit Chapter 13 : Ujian di Panggung Kaca online, Seniman Digital Gang Sempit Chapter 13 : Ujian di Panggung Kaca baru komiku, Seniman Digital Gang Sempit Seniman Digital Gang Sempit Chapter 13 : Ujian di Panggung Kaca chapter, high quality sub indo, Seniman Digital Gang Sempit manga scan terbaru, manhwa web, , DesainerHub

Rekomendasi